Oleh : Mashuri (AWI)
HARI Buruh kembali hadir. Di tengah gemuruh orasi dan pawai serikat di jalan-jalan besar kota, mari kita jujur sejenak. Sebagian besar perayaan May Day terpusat di kantong-kantong industri besar—Surabaya, Medan, Karawang, Cilegon. Masalah klasik mengenai kenaikan UMP, Outsourcing, dan PHK menjadi pusat panggung. Semua itu penting. Tapi di tahun 2026, ruang diskusi harus kita lebarkan. Jika tidak, kita hanya merayakan kemenangan di atas panggung, sementara di belakang panggung, maya-maya perjuangan itu menjadi bumerang bagi saudara-saudara kita di sektor informal dan pedesaan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) terbaru mencatat, hampir 60% penduduk usia kerja Indonesia (atau tepatnya 59,40%) justru bekerja di sektor informal yang tak tersentuh jaring pengaman sosial negara. Mereka adalah buruh rantai pangan yang mencukupi kebutuhan 270 juta penduduk. Lalu, bagaimana dengan kesejahteraan mereka? Ironis. Sektor pertanian yang menyerap 28,54% angkatan kerja nasional hanya mampu memberikan rata-rata upah Rp2,25 juta per bulan pada awal 2025. Angka ini bukan hanya terendah kedua dari seluruh sektor, tetapi juga jauh panggang dari api jika dibandingkan rata-rata upah buruh nasional yang menyentuh Rp3,09 juta. Selisih lebih dari 27%—sebuah jurang yang tak bisa ditutupi dengan semboyan pembangunan.
Slogan perjuangan harus diorbitkan ulang. Jangan sampai peringatan May Day kehilangan vitalitasnya karena lupa membawa pulang aspirasi ke tingkat tapak. Di sanalah Perkumpulan Persatuan Masyarakat Lebong (PAMAL) berdiri dengan tuntutan yang mengiris nurani. Mereka adalah suara dari perut bumi yang selama ini tenggelam oleh gemuruh mesin pabrik di kota.
Eksploitasi Halus di Perkebunan Emas Hijau
Di Desa Mangkurajo, Kecamatan Lebong Selatan, Kabupaten Lebong, Provinsi Bengkulu, komoditas kopi jenis arabika spesialti—yang digadang-gadang mendatangkan valuta asing—nyatanya menyisakan nestapa. PT Indoarabica Mangkuraja (IAM), perusahaan yang telah mengantongi izin usaha puluhan tahun di sektor perkebunan kopi, kini menghadapi momentum akhir dari kebuntuan komunikasi. Bukan karena tuntutan yang muluk, tapi karena akal sehat yang diinjak-injak.


Komentar