Oleh : Erwin Basrin
Tahun 1849 seorang lelaki dari Concord, Massachusetts, menerbitkan esai pendek. Namanya Henry David Thoreau. Judulnya Civil Disobedience, atau Pembangkangan Sipil. Tulisan itu tipis, tetapi gagasannya keras. Thoreau mengajukan satu pertanyaan yang masih relevan sampai hari ini: sampai mana seseorang wajib patuh pada pemerintah?
Pertanyaan itu tidak lahir dari ruang kuliah. Ia lahir dari pengalaman nyata. Thoreau menolak membayar pajak selama bertahun-tahun. Suatu hari ia ditangkap dan dikurung di penjara kota selama satu malam. Dari dalam sel batu yang sempit itu, ia memikirkan negara, hukum, dan suara hati. tulisan ini adalah hasil renungannya.
Mari kita bongkar gagasan utamanya satu per satu, dengan bahasa yang mudah dicerna.
Thoreau membuka esainya dengan kalimat yang kemudian terkenal. Ia setuju pada semboyan bahwa pemerintah terbaik adalah yang paling sedikit mengatur. Lalu ia mendorong gagasan itu lebih jauh. Menurutnya, pemerintah terbaik adalah yang sama sekali tidak mengatur, kelak ketika manusia sudah siap untuk itu.
Maksud Thoreau bukan anarki tanpa aturan. Ia menyebut pemerintah sebagai alat bantu. Sebuah cara praktis agar orang bisa hidup berdampingan. Masalahnya, alat itu sering disalahgunakan. Pemerintah, kata dia, kerap menghalangi rakyat alih-alih menolong. Ia tidak membuat negara bebas. Ia tidak membangun wilayah baru. Ia tidak mendidik. Yang melakukan semua itu adalah watak rakyat itu sendiri.
Thoreau menunjuk satu contoh konkret: Perang Meksiko yang sedang berlangsung saat itu. Menurut dia, perang itu bukan kehendak rakyat. Perang itu hanya keinginan segelintir orang berkuasa yang memakai pemerintah sebagai perkakas. Di sini ia menolak pasukan tetap dan, dengan logika yang sama, menolak pemerintah yang berdiri di atas paksaan.


Komentar