Inti seluruh tulisan saya ada di bagian ini. Thoreau bertanya: mengapa mayoritas yang memerintah? Jawabannya jujur dan tidak romantis. Mayoritas memerintah bukan karena mereka paling benar, bukan pula karena itu paling adil bagi minoritas. Mayoritas memerintah karena mereka paling kuat secara fisik. Kekuatan jumlah tidak sama dengan kebenaran. Maka Thoreau menolak menyerahkan hati nuraninya kepada undang-undang. Ia menulis kalimat yang menjadi pegangan banyak orang sesudahnya.
“Kita harus menjadi manusia lebih dulu, baru menjadi warga negara kemudian.” (Civil Disobedience)
Bagi Thoreau, hormat pada hukum tidak boleh melebihi hormat pada keadilan. Hukum tidak pernah membuat manusia lebih adil. Justru sebaliknya. Karena terlalu hormat pada hukum, orang baik pun bisa menjadi pelaksana ketidakadilan tanpa sadar.
Ia memberi gambaran yang tajam. Bayangkan barisan tentara berbaris menuju perang. Banyak dari mereka tidak setuju dengan perang itu. Hati kecil mereka menolak. Namun mereka tetap melangkah karena perintah. Pada saat itu, kata Thoreau, mereka berhenti bertindak sebagai manusia. Mereka berubah menjadi mesin yang bergerak dengan tubuh, bukan dengan akal dan nurani.
Tulisan ini bukan filsafat yang melayang di awang-awang. Latar belakangnya nyata dan berdarah. Saat Thoreau menulis, Amerika Serikat masih melegalkan perbudakan. Seperenam penduduk negeri itu hidup sebagai budak. Pada saat yang sama, negaranya menyerbu Meksiko.
Bagi Thoreau, dua hal itu membuat kepatuhan menjadi mustahil. Ia tidak bisa mengakui pemerintah yang juga merupakan pemerintah para pemilik budak. Ia menolak ikut menanggung dosa itu, sekecil apa pun bentuk tanggungannya.
Ia juga menyindir orang-orang yang mengaku menentang perbudakan tetapi tidak berbuat apa-apa. Mereka menyesal, mereka mengeluh, kadang mereka menandatangani petisi. Namun mereka tidak bertindak sungguh-sungguh. Thoreau menyebut sikap itu setengah hati. Menentang di mulut, tetapi tetap menopang sistem yang sama lewat pajak dan kepatuhan.


Komentar