Nasional Opini
Beranda » Membaca Ulang Civil (Disobedience Membangkang Dengan Hati Nurani)

Membaca Ulang Civil (Disobedience Membangkang Dengan Hati Nurani)

Erwin Basrin Direktur Eksekutif AKAR Foundation

Banyak orang merasa sudah berbuat baik hanya karena ikut memilih dalam pemilu. Thoreau tidak sependapat. Ia menyamakan memilih dengan permainan, semacam taruhan yang dibumbui sedikit nilai moral. Saya mencoblos sesuai keyakinan, kata dia, tetapi saya tidak benar-benar mempertaruhkan apa pun.

Memilih hanya berarti menyatakan harapan dengan lemah agar kebenaran menang. Setelah itu, keputusan diserahkan pada suara terbanyak. Padahal orang bijak, menurut Thoreau, tidak akan menyerahkan kebenaran pada nasib atau pada hitungan suara.

Ia menambahkan sindiran yang menusuk. Ketika mayoritas akhirnya memilih menghapus perbudakan, itu mungkin terjadi karena mereka sudah tidak peduli, atau karena perbudakan memang nyaris habis. Artinya, perubahan datang terlambat, setelah taruhannya tidak lagi besar.

Lalu apa yang seharusnya dilakukan? Jawaban Thoreau jelas. Bertindaklah berdasarkan prinsip. Ia menyebut tindakan semacam ini bersifat revolusioner. Tindakan dari prinsip mengubah keadaan, memisahkan yang benar dari yang salah, bahkan memecah keluarga dan lembaga jika perlu.

Di sinilah muncul rumusnya yang paling terkenal soal melanggar hukum. Jika ketidakadilan hanya gesekan kecil dalam mesin negara, biarkan saja, kata dia. Tetapi jika hukum menuntut Anda menjadi alat untuk menindas orang lain, maka langgar lah hukum itu.

DNA Tak Bisa Dusta, Kakak Kandung Korban Jadi Tersangka

“Biarkan hidupmu menjadi gesekan balik yang menghentikan mesin.” (Civil Disobedience)

Perhatikan, Thoreau tidak menyuruh kekerasan. Ia menuntut penolakan. Berhenti bekerja sama dengan ketidakadilan. Cabut dukungan, baik dukungan tubuh maupun harta. Itulah inti pembangkangan sipil: melawan tanpa angkat senjata, dengan cara menolak ikut serta.

Thoreau tidak hanya berteori. Ia menolak membayar pajak kepala selama enam tahun. Akibatnya ia ditangkap dan dikurung satu malam. Bagian ini menarik karena ditulis dengan tenang, bahkan dengan sedikit humor.

<< 1 2 3 4 5 6 >>

Laman: 1 2 3 4 5 6

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement