Di dalam sel, ia mengamati dinding batu setebal beberapa kaki dan pintu besi tebal. Ia merasa lucu melihat negara memperlakukannya seakan ia hanya daging, darah, dan tulang yang bisa dikunci. Negara, simpulnya, tidak menghadapi akal atau nuraninya. Negara hanya menghadapi tubuhnya. Senjatanya bukan kecerdasan, melainkan kekuatan fisik belaka.
Yang menggelitik, Thoreau justru merasa lebih bebas dari para tetangganya yang berada di luar tembok. Pikirannya tidak terkurung. Esok paginya ia dibebaskan karena seseorang membayar pajaknya tanpa ia minta. Ia keluar, memperbaiki sepatunya, lalu ikut rombongan memetik buah di bukit. Negara, tulisnya, lenyap dari pandangan.
Dari pengalaman ini lahir kalimat yang sering dikutip. Di bawah pemerintah yang memenjarakan orang secara tidak adil, tempat yang benar bagi orang adil juga adalah penjara.
Banyak orang takut melawan karena merasa sendirian. Suara satu orang dianggap tidak ada artinya. Thoreau membalik cara pikir ini. Menurutnya, satu orang yang lebih benar dari para tetangganya sudah merupakan mayoritas, mayoritas yang terdiri dari satu orang.
Ia juga membahas hubungan antara uang dan keberanian moral. Semakin banyak harta seseorang, kata dia, semakin sulit ia melawan. Orang kaya terikat pada lembaga yang membuatnya kaya. Ia punya terlalu banyak hal yang ingin dilindungi. Maka ia cenderung patuh demi rasa aman.
Thoreau memang menulis dengan nada keras. Tetapi tujuannya bukan membenci negara. Ia mengaku justru ingin menemukan alasan untuk patuh. Setiap tahun, ketika penagih pajak datang, ia berharap menemukan alasan itu. Masalahnya, hati nuraninya tidak mengizinkan.
Tulisan ini saya tutup dengan sebuah harapan, bukan kemarahan. Thoreau membayangkan negara yang lebih matang. Negara yang menghormati individu sebagai sumber dari segala kekuasaannya. Negara yang cukup adil untuk membiarkan sebagian warganya hidup tenang di pinggir, tanpa harus dipaksa tunduk.


Komentar