Oleh: Ronald Reagen
Dunia materi bergerak senada dengan dunia ide (roh). Keterikatan kita terhadap perubahan, seperti mencanangkan keterikatan kita pada dunia ide ( Roh). Bahwa apapun yang kita pahami, jalani hari ini, saat kita pertama kali menyeruput kopi, membakar rokok, adalah proses dialektik, proses pergumulan kita pada realita sebagai materi dan informasi dari masa lalu serta prediksi masa depan sebagai bagian dari ide (roh)
“Panta rhei kai ouden menei” segala sesuatu mengalir bagaikan arus sungai, dan tidak ada satu orangpun yang dapat masuk ke sungai yang sama untuk kedua kalinya. Demikian pernyataan Heraclitus. Pencetus model dialektika, atau bapak dialektika, setidaknya yang tercatat didalam catatan sejarah kefilsafatan ini berbicara tentang bahwa perubahan tidak terelakkan.
Semua gagasan akan dimakan oleh sejarah, sejarah itu adalah perubahan itu sendiri. Sejarah dalam tindakan adalah sungai, yang akan mencetak lalu membawanya kedalam aliran, secara terus menerus, konstan. Maka ada adagium bahwa yang abadi adalah perubahan itu sendiri.
Heraclitus yang sezaman dengan Xenophenes dan Pythagoras ini menegaskan perihal perubahan adalah semacam aliran sungai. Dalam anggapan yang dapat di terjemah dari pragmen -pragmen peninggalannya, dia mengatakan bahwa kehidupan berawal dari api. Pemaknaan bahwa kehidupan dari api adalah, api sebagai pendorong utama/aktor dari setiap tindakan perubahan. Api bisa dimaknai juga semangat. Tetapi dalam sisi kerja secara material, pun kita juga mendapatkan tindakan bahwa; api mampu mengubah apapun yang telah berada dan masuk kedalamnya.


Komentar