Jika hari ini kita menggambarkan bahwa seluruh interaksi kita berangkat dari kesatuan perasaan, katakanlah karena perasaan senasib sebagai sesama warga negara Indonesia. Tetapi perasaan senasib ini sesama warga negara tidak kita temukan lagi pada esok hari. Pengalaman krisis global masa lalu telah membuka kenyataan bahwa arus peradaban menuntun kita pada kesadaran baru sebagai warga dunia (global citizen). ( Bahwa Essay Perubahan ini sendiri adalah bentuk dari kesadaran yang tumbuh)
Mata uang digital dan aset kripto perlahan masuk kedalam gelanggang menggeser tatanan uang fisik lama. Tidak hanya dollar, rupiah akan terdisrupsi. Kita harus sadar juga, bahwa negara yang kita cari didalam konstitusi hari ini, tidak akan lagi kita temukan esok hari. Negara esok hari adalah perangkat-perangkat administratur, semata-mata rambu-rambu yang biasa kita temui di pinggiran jalan yang kita lewati.
Negara esok hari hanya menjelaskan tanda berbelok, dilarang parkir atau tanda tanjakan. Negara esok hari adalah negara apa yang selama ini kita sebut dunia, Globe, Bumi. Warga pedalaman Jambi, adalah sekaligus warga pedalaman Afrika. Warga pedalaman jambi, akan bertransaksi secara instan dengan warga di Afrika menggunakan dompet digital global atau aset kripto lintas negara.
Dollar ,Rupiah,Yuan, esok hari, printing uang kertasnya adalah cerita yang biasa anak-anak kita dapatkan ceritanya di Museum-museum. Anak-anak kita esok hari adalah anak-anak yang bertransaksi lewat pemindaian sensor fisik dan layar sentuh. Tidak ada beban material dari apa yang kita sebut uang. Kemampuan berbahasa asing, akan diterjemahkan secara real-time oleh alat penerjemah berbasis AI. Jadi dialog dalam dua bahasa berbeda akan langsung dimediasi oleh kecerdasan buatan. Masih perlukah kita mengambil kursus bahasa asing secara konvensional?


Komentar