Kita segera mendapatkan tugas, dari hasil benturan ontologis “usaha menyelesaikan” , bagaimana kesungguhan dalam membangun kesadaran material menjadi syarat kedewasaan bertindak (amal), sementara Tauhid membebaskan manusia dari penyembahan terhadap materi dan teknologi itu sendiri, mengembalikan muara dari segala dinamika perubahan kepada kedaulatan absolut Sang Pencipta.
Kedudukan ayat Al-Qur’an ini dengan tegas mematahkan sikap pasrah atau fatalisme (jabariyah) dalam menghadapi gelombang perubahan zaman. Tauhid tidak memposisikan takdir sebagai alasan untuk berdiam diri, melainkan sebagai fondasi keberanian moral dan intelektual. Dalam kacamata ini, pemahaman atas kondisi material/kongkret (asbab al-nuzul kehidupan modern) adalah syarat mutlak sebelum sebuah tindakan (amal/aksi aktor) dilakukan. Ketika aksi rasional dan ilmiah tersebut bertemu dengan ketundukan pada hukum Allah (Qadarullah), di situlah tatanan baru yang beradab dapat dilahirkan, menjadikan umat bukan sekadar penonton pasif dari arus panta rhei, melainkan subjek pembentuk sejarah.
Jadi, jika ada ramalan siapakah pemenang di masa depan? Tentunya para aktor yang tunduk di dalam hukum perubahan. Bagi seorang individu Islam sadar akan hal ini. Panduan yang telah di lakukan Kitab Al-quran menegaskan pada wacana kemunculan perubahan tunduk di dalam tindakan aktor dan izin allah.
Kepercayaan yang sifatnya imanen/Tauhid membuka kepercayaan diri untuk melakukan upaya perubahan. Karena perubahan di dalam alquran adalah gerakan untuk mengubah/tindakan para aktor. Aktor bisa di mengerti sebagai negara, organisasi sosial, maupun individu-individu.
Wallahu alam Bissawab.


Komentar