Nasional Opini
Beranda » PERUBAHAN

PERUBAHAN

Ronald Reagen, Aktivis dan pengamat masyarkat sipil/dipatriot.

​Realitas ini menandai lahirnya era apa yang disebut Zuboff sebagai Surveillance Capitalism (Kapitalisme Pengawasan). Kekuatan geopolitik tidak lagi hanya diukur dari luasan wilayah daratan atau jumlah personel militer, melainkan dari penguasaan atas infrastruktur data, arus algoritma, dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Negara-bangsa (nation-state) perlahan kehilangan monopoli atas kedaulatannya karena ruang publik, ruang transaksi, hingga konstruksi kesadaran warga negaranya telah dikuras dan dikendalikan oleh platform digital lintas batas. Manusia modern tidak hanya menjadi konsumen produk digital, tetapi tubuh dan perilaku sehari-harinya telah ditransformasi menjadi komoditas data itu sendiri.

​Era pasca-pandemi dan ledakan AI hari ini kian membuka wacana kita, membuka kembali gerakan perubahan apa yang di pahami oleh Heraclitus. Bahwa tatanan dunia mulai bergeser ke satu titik Unifikasi. Dimana penggerak utama peradaban bukan lagi sekadar politisi dari partai politik. Akan tetapi dunia makin dikomandoi oleh Artificial Intelligence dan korporasi raksasa pemilik ekosistem AI serta media sosial.
​Dunia bergerak di bawah pengaruh para raksasa teknologi (Big Tech) dan algoritma terpusat. Bukankah miliaran pengguna platform digital hari ini menjelaskan bahwa para pemilik infrastruktur teknologi sebenarnya telah menjadi pemimpin de facto dunia, menguras sumber daya yang tersedia di bumi demi melanjutkan ide tentang potensi manusia hybrid atau fantasi dunia berbeda ” de-intelektualisasi?

​Bahkan jika hari ini, tanpa keterlibatan dan izin jaringan dari platform digital, jangan berharap akan lahirnya Revolusi Sosial atau gerakan perubahan massa secara efektif. Jadi motor perubahan sedang berpindah sirkuitnya. Tentu sekedar seloroh, bagi siapapun yang berminat untuk menjatuhkan sistem, secara opsional, penguasaan arus dan sebaran informasi berangkat dar pemahaman, dinamika algoritma media sosial dan jaringan data.

​Kendati demikian, sesuai hukum dialektika itu sendiri, hegemoni Big Tech dan otoritarianisme algoritma adalah perjalanan sejarah menuju sejarah, dan ide konstan alias mutlak saling membongkar. Justru dalam dirinya sendiri, sistem ini secara konstan memproduksi kontradiksi internalnya.

DNA Tak Bisa Dusta, Kakak Kandung Korban Jadi Tersangka
<< 1 2 3 4 5 6 7 8 >>

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement