Tentu tidak bisa. Negara, yang kita pahami sebagai wujud dari kesepakatan bersama ataupun kontrak sosial pun perlahan bergeser. Negara bergeser pemaknaannya, di makan oleh ekosistem digital lintas batas dan pola kerja jarak jauh (work from anywhere).
Demikian, imajinasi kitapun bergerak menuju pergerseran-pergerseran ini. Memasuki sungai yang sama sekaligus tidak masuk ke sungai yang sama.
Namun, pergeseran ini tidak berarti negara-bangsa (nation-state) akan musnah begitu saja ditelan oleh gelombang digital. Sejarah dialektika menunjukkan bahwa setiap bentuk hegemoni baru selalu membangkitkan resistensi dan penyesuaian dari tatanan lama. Negara tidak tinggal diam menyerahkan kedaulatannya kepada platform swasta ( bahwa ide berkuasa adalah sesuatu yang abadi, sebagai kekuatan awal bagi proses transformatif) ; ia bertransformasi. Kebutuhan mutlak atas kendali sumber daya fisik, pangan, energi, mineral kritis, hingga monopoli kekerasan hukum, tetap menjadikan entitas fisik negara sebagai kekuatan utama di saat krisis material terjadi. Mata uang digital bank sentral (Central Bank Digital Currency) adalah penyesuian kekuasaan , dan sebagai wujud kontradiksi negara terhadap korporasi teknologi. Ini semacam strategi terencana untuk menyerap instrumen digital guna memperketat pengawasan dan mengokohkan kembali kontrol moneter negara atas warga negara nya.
Kesadaran yang tumbuh antara saya yang kemaren hari dengan saya hari ini tidaklah sama. Indikator ketika saya memahami tindakan itu tentu tidak juga sama. Teks yang saya baca hari ini adalah teks yang sama yang saya baca tempo hari , tetapi saya tidak mendapatkan makna yang sama pada teks yang sama antara tempo hari dan hari ini.


Komentar