Kolektif Tiqqun berpendapat bahwa psikokrasi bekerja dengan mengontrol “ruang batin” manusia. Dalam bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar, Kekuasaan seringkali menggunakan retorika religius atau fatalisme (menganggap bencana murni takdir) untuk menenangkan warga secara psikologis agar tidak kritis terhadap kegagalan infrastruktur atau izin tambang/loging yang merusak alam. Kita lihat misalnya diawal bencana, saat ribuan gelondongan kayu menghempas Pemukiman warga, berani-beraninya Menteri Lingkungan hidup dan badan pengendalian lingkungan hidup mengeluarkan pernyataan yang bukan melalui hasil investigasi, bahwa gelondongan kayu tersebut adalah peristiwa alam, atau tercerabut dengan sendirinya oleh air bah.
Lalu bagaimana publik menanggapi ini semua? Khususnya pada masyarakat terdampak bencana. Sebuah realita, sekitar 15 hari pasca bencana, tiba-tiba adapengibaran bendera putih oleh warga. Kita mensinyalir ini sebagai tekanan dalam memecahkan dinding psikokrasi tersebut. Secara simbolis kita bisa membaca bahwa pengibaran bendera putih sebagai model politik tanda warga berdaulat. Sebagai tanda yang sedang bekerja merebut kembali “ruang batin” .
Saya menduga tindakan ini bukanlah ekspresi keputusasaan, melainkan bentuk komunikasi politik alternatif. Melawan saluran resmi yang dipenuhi narasi penenang dan simbolisme. tubuh warga sendiri menjadi medium pesan perlawanan. Hal ini bisa jadi sebagai medium perlawanan baru atas tindakan tercela para psikokrat. Ini membuktikan bahwa realitas material terlalu keras untuk ditundukkan oleh manipulasi emosional dan nasionalisme elit harga diri negara tinggi. Meminjam istilah Edward Bernays, pemerintah menggunakan teknik engineering of consent (perekayasaan persetujuan). Mereka mencoba membuat masyarakat “setuju” bahwa bantuan yang terlambat adalah hal wajar karena cuaca, atau “setuju” bahwa penolakan bantuan pihak luar adalah demi kedaulatan daerah. Tapi masyarakat Aceh Sumbar dan Sumut bukalah kerumunan Pasifis, mereka adalah masyarakat realitas pada, yang masih mampu melihat dan melindungi kebenaran yang mereka miliki.


Komentar