Lebong, tanah yang subur dan kaya raya ini, membutuhkan fondasi ekonomi yang kokoh dan berkelanjutan. Bupati harus kembali ke dasar, menyentuh akar persoalan: tingkatkan produktivitas padi dan perikanan Ikan Mas yang tersohor sejak dulu sebagai ikon masyarkat Lebong, dengan kebijakan berani, seperti melegalkan tambang rakyat melalui skema kerja sama yang adil dengan pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP), atau mengusulkan pencabutan IUP yang mandek untuk dikelola secara bertanggung jawab oleh rakyat. Bangun inovasi perkebunan kopi rakyat dengan mendatangkan ahli, transfer teknologi, dan membuka pasar yang menjamin kesejahteraan petani.
Pada hakikatnya, masyarakat Lebong adalah pilar ketangguhan sejati—masyarakat mandiri yang sanggup hidup dan berkarya tanpa intervensi berlebihan dari pemerintah, kecuali dalam urusan administratif kependudukan yang efektif. Pemerintah harus hadir bukan sebagai penghambat atau birokrasi yang beku, melainkan sebagai fasilitator ulung, katalisator pembangunan, dengan kebijakan yang konkret, transparan, penuh integritas, dan berorientasi pada kemakmuran rakyat banyak.
Tanpa perubahan fundamental, tanpa keberanian memutus mata rantai skandal, dan tanpa visi ekonomi yang jelas, Lebong hanya akan terus terpuruk dalam lingkaran setan stagnansi dan aib. Sementara itu, potensi alam yang melimpah dan semangat kemandirian warganya yang membara perlahan-lahan bisa terbengkalai, terkubur oleh keserakahan segelintir orang dan ketidak beranian pemimpinnya. Momentum untuk kebangkitan itu ada, tetapi ia membutuhkan tangan besi yang bijaksana dan hati yang bersih untuk memulainya. Saatnya menulis ulang narasi Lebong dari kisah suram menjadi epos tentang pembangunan dan kehormatan yang bangkit kembali. ( Awi )


Komentar