Nasional Opini
Beranda » KRISIS IKLIM DALAM PANDANGAN KARL MARX

KRISIS IKLIM DALAM PANDANGAN KARL MARX

Erwin Basrin Direktur Eksekutif AKAR Foundation

Di Barat juga terjadi hal serupa dari arah berbeda. Banyak pemikir Marxis justru menjauh dari sains dan alam. Akibatnya, sisi ekologis Marx ikut terkubur. Foster menyebut ini sebagai sebuah tragedi besar bagi pemikiran ekologi Marxis sesudah Marx.

Kabar baiknya, gagasan itu hidup kembali. Menurut Foster, kebangkitannya datang justru lewat ilmu pengetahuan alam pada 1970-an, saat warisan pandangan materialis tentang alam belum sepenuhnya padam. Buku ini sendiri adalah bagian dari usaha menghidupkan kembali warisan tersebut.

Apa gunanya semua ini untuk pembaca masa kini? Cukup banyak. Pertama, buku ini mengubah cara kita memandang sejarah ide lingkungan. Ekologi bukan lahir dari penolakan terhadap sains, melainkan dari perkembangan sains itu sendiri.

Kedua, gagasan retakan metabolik memberi kita alat untuk membaca krisis zaman sekarang. Tanah yang rusak, rantai pasok pangan yang panjang, kota yang penuh limbah, dan ketergantungan pada pupuk dari jauh adalah masalah yang sudah dipotret Marx lebih dari seratus tahun lalu. Polanya belum banyak berubah, hanya skalanya yang membesar.

Ketiga, buku ini menolak memisahkan isu sosial dan isu lingkungan. Bagi Marx, merusak alam dan menindas manusia berasal dari logika yang sama. Maka memperbaiki keduanya juga harus berjalan bersama. Pelajaran ini terasa tajam di tengah perdebatan iklim hari ini, yang sering memisahkan nasib bumi dari nasib orang miskin.

DNA Tak Bisa Dusta, Kakak Kandung Korban Jadi Tersangka

Marx’s Ecology bukan bacaan ringan. Buku ini padat dengan filsafat dan sejarah ide. Tetapi pesan utamanya bisa diringkas sederhana. Marx melihat manusia sebagai bagian dari alam, bukan penguasanya. Ia memperingatkan bahwa sistem yang hanya mengejar keuntungan akan merampok tanah dan pekerja sekaligus. Ia mengingatkan kita untuk mewariskan bumi dalam keadaan baik.

Foster mengajak kita membaca ulang seorang pemikir lama dengan mata baru. Hasilnya bukan sekadar Marx yang berbeda, melainkan cara pandang yang berguna untuk menghadapi krisis kita sendiri. Bumi bukan milik kita. Kita hanya penjaganya untuk sementara waktu.

<< 1 2 3 4 5 6 7 >>

Laman: 1 2 3 4 5 6 7

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement