Materialisme adalah pandangan bahwa alam dan materi datang lebih dulu. Dunia fisik itu nyata dan ada lebih dulu daripada pikiran kita. Lawannya adalah idealisme, yang menempatkan ide, roh, atau pikiran sebagai yang utama. Foster mengutip cara sederhana untuk membedakan keduanya lewat satu pertanyaan tua: apakah dunia diciptakan, atau sudah ada selamanya? Yang menjawab roh lebih dulu masuk kubu idealisme. Yang menjawab alam lebih dulu masuk kubu materialisme.
Marx memilih materialisme. Tetapi bukan jenis yang kaku. Ada satu kesalahpahaman yang perlu dibuang. Materialisme tidak berarti dunia berjalan seperti mesin yang sudah ditentukan sepenuhnya. Marx menolak gambaran kaku itu. Baginya, alam dan manusia berkembang dalam proses yang terbuka, penuh kemungkinan, dan saling memengaruhi.
Inilah temuan paling khas yang saya baca dari buku ini. Foster melacak materialisme Marx sampai ke Epikuros, filsuf Yunani yang hidup ribuan tahun lalu. Bukan kebetulan. Marx menulis disertasi doktornya tentang Epikuros.
Apa yang menarik dari Epikuros? Ia menolak penjelasan bahwa segala hal di alam terjadi demi tujuan ilahi tertentu. Pandangan ini disebut anti-teleologis. Artinya, alam tidak berjalan menuju satu tujuan yang sudah dirancang dari atas. Alam berjalan menurut hukumnya sendiri.
Tetapi Epikuros bukan penganut nasib buta. Ia percaya manusia tetap punya kebebasan. Materialismenya justru menjadi dasar bagi gagasan kebebasan manusia. Perpaduan inilah, materi dan kebebasan, yang kelak diserap dan dikembangkan oleh Marx. Foster menunjukkan bahwa Epikuros adalah benang merah yang menghubungkan banyak pemikir besar, dari Bacon, Kant, Hegel, sampai Marx sendiri.
Di sinilah Foster membuat poin yang berani. Banyak teori lingkungan modern menuduh sains dan materialisme sebagai biang kerusakan alam. Foster berpendapat sebaliknya. Justru materialisme dan sains itulah yang melahirkan cara berpikir ekologis.


Komentar