Nasional Opini
Beranda » KRISIS IKLIM DALAM PANDANGAN KARL MARX

KRISIS IKLIM DALAM PANDANGAN KARL MARX

Erwin Basrin Direktur Eksekutif AKAR Foundation

Lalu muncul masalah besar di zaman itu. Hasil panen dari desa dikirim jauh ke kota-kota besar untuk dimakan. Zat hara yang terkandung dalam makanan itu ikut terbawa ke kota. Setelah dimakan, sisanya menjadi limbah di kota, bukan kembali ke ladang asalnya. Jadi tanah desa terus dikuras, sementara kota dipenuhi kotoran dan limbah.

Liebig menyebut cara bertani semacam ini sebagai sistem perampokan. Tanah dirampok zat haranya tanpa pengembalian. Ia menyerukan prinsip yang berbeda, yaitu prinsip pengembalian. Apa yang diambil dari tanah harus dikembalikan ke tanah agar kesuburannya terjaga untuk waktu lama.

Krisis ini sangat nyata. Foster mencatat bagaimana negara-negara berebut pupuk alami. Amerika Serikat bahkan mengesahkan undang-undang pada 1856 yang membenarkan pencaplokan pulau-pulau kecil di seluruh dunia hanya karena pulau itu kaya kotoran burung yang dipakai sebagai pupuk. Tanah yang lelah memicu perebutan sumber daya lintas benua.

Dari masalah tanah inilah lahir gagasan paling penting dalam buku ini. Foster menyebutnya teori retakan metabolik, atau metabolic rift. Istilah ini ia gali dari karya besar Marx, yaitu Kapital.

Mari kita pahami kata metabolisme dulu. Dalam tubuh, metabolisme adalah pertukaran zat yang membuat kita hidup. Kita mengambil makanan, mengolahnya, lalu mengeluarkan sisa. Marx memakai gagasan serupa untuk hubungan manusia dan alam. Lewat kerja, manusia mengambil bahan dari alam, mengolahnya, lalu mengembalikan sesuatu. Pertukaran zat ini, dalam istilah Marx, adalah syarat abadi bagi kehidupan manusia.

DNA Tak Bisa Dusta, Kakak Kandung Korban Jadi Tersangka

Nah, menurut Marx, kapitalisme merusak pertukaran sehat ini. Sistem ini memisahkan desa dan kota secara tajam. Makanan mengalir satu arah dari desa ke kota, tetapi zat haranya tidak pernah kembali ke tanah. Akibatnya muncul apa yang Marx sebut retakan yang tak terpulihkan dalam metabolisme antara manusia dan bumi. Marx menulis bahwa kemajuan dalam pertanian kapitalis bukan hanya seni merampok pekerja, melainkan juga seni merampok tanah. Setiap kemajuan jangka pendek dibayar dengan kerusakan sumber kesuburan jangka panjang.

<< 1 2 3 4 5 6 7 >>

Laman: 1 2 3 4 5 6 7

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement