“Kami tidak anti kemajuan, Bang Azam,” kata Dani pelan, sambil menuang kopi hitam ke gelas Azam.
“Kami anti ilusi kemajuan yang dijual murah. Lihat saja. Mereka bilang demokrasi adalah suara rakyat. Tapi suara kami dulu sudah habis diteriakkan, dan yang tersisa hanyalah gema yang dipakai untuk kampanye mereka. Demokrasi di sini bukan lagi pemerintahan oleh rakyat, melainkan pementasan untuk rakyat—seperti wayang kulit, hanya dalang dan penontonnya yang berganti.
”Monik, perempuan muda yang duduk di sudut, menambahkan tanpa mengangkat wajah dari buku catatannya.
“Manusia modern sekarang hidup dalam kandang yang nyaman. Kandang bernama ‘aspirasi’. Kita diberi hak suara, hak demo, hak komentar di media sosial. Tapi semua itu hanya memberi kita ilusi partisipasi. Sementara keputusan besar tetap diambil di ruang-ruang tertutup oleh orang-orang yang sama. Kita bukan warga negara lagi. Kita adalah data—data pemilih, data konsumen, data yang bisa dimanipulasi.
”Azam merasakan ada getaran dalam dada. Ia yang selama ini hidup di pusat kota, selalu terhubung, selalu “update”, tiba-tiba merasa seperti orang asing di hadapan orang-orang yang justru terputus dari dunia maya.“
Jadi kalian memilih keluar dari arus itu?” tanya Azam.
Seorang laki-laki paruh baya bernama Pak Karno, yang selama ini diam saja sambil mengisap rokok kretek, akhirnya bicara. Suaranya berat, seperti suara penyanyi jazz..
“Kami tidak keluar, Nak. Kami kembali. Kembali ke pertanyaan paling dasar yang sudah dilupakan manusia zaman sekarang: Apa artinya hidup ini? Bukan hidup yang diukur dengan seberapa banyak kita dikonsumsi atau dikagumi orang lain. Tapi hidup yang dijalani dengan kesadaran penuh. Kami belajar dari Camus. Hidup ini absurd. Sistem ini absurd. Janji-janji pembangunan yang berulang setiap lima tahun itu absurd. Tapi justru karena absurd, kita punya kebebasan untuk memberi makna sendiri.”
Dia tersenyum getir.


Komentar