Dani tertawa pelan. “Karena kami bosan jadi bagian dari arus besar yang ternyata cuma mengalir ke satu arah. Apa itu ? Kekuasaan, “Ya, kekuasaan,” tegasnya sekali lagi. Kami tidak anti pemerintah. Kami anti kepalsuan. Kami anti orang-orang yang berteriak demokrasi di panggung, tapi membiarkan kami mati pelan-pelan di belakang panggung.
”Seorang perempuan muda yang duduk di sudut—namanya Monik—menambahkan dengan suara pelan, “Kami sudah capek jadi statistik. Capek jadi pemilih. Capek jadi penonton. Jadi kami memilih untuk tidak menjadi apa-apa di mata mereka. Kami belajar sendiri. Baca buku. Diskusi. Bertani kecil-kecilan. Membuat barang dari limbah. Hidup tanpa bergantung pada janji yang tak pernah ditepati.
”Azam mengangguk pelan. Ia merasakan ada semacam ketenangan aneh di ruangan itu. Bukan kemarahan berapi-api, melainkan semacam pemberontakan yang telah lama terpendam—pemberontakan yang lahir dari kekecewaan yang terlalu sering diulang.
“Terus… apa harapan kalian dari saya?” tanya Azam.
Dani menatap tajam mata Azam sesaat pertanyaan itu terlontar.
“Kami tidak butuh bantuan. Kami tidak minta diselamatkan. Kami hanya ingin cerita kami didengar. Bukan sebagai korban. Bukan sebagai ‘masyarakat miskin yang terpinggirkan’. Tapi sebagai orang-orang yang memilih jalan sendiri di tengah sistem yang memaksa semua orang berlari ke arah yang sama”.
Dia tersenyum tipis.
“Kalau boleh, Bang, tulis tentang kami. Bukan untuk membuat kami terkenal. Tapi supaya orang-orang di luar sana tahu bahwa ada yang memilih berhenti berlari. Dan mereka masih bernapas dengan tenang.
”Azam diam sejenak. Angin sore menyusup masuk, membawa bau daun kering dan tanah. Entah mengapa, di tempat yang tak ada sinyal ini, ia merasa baru saja menemukan sinyal yang jauh lebih jernih.
Dani menatap Azam dengan sorot mata yang tajam, tapi tidak intimidatif. Bukan sorot mata orang yang sedang marah, melainkan orang yang sudah melewati kemarahan dan keluar di sisi lain—sebuah ketenangan yang lahir dari pembakaran.


Komentar