Oleh : Muhammad Prihatno
Tak sengaja pagi itu perjalanan mengarahkan ke suatu daerah yang tidak memiliki akses internet. Tak begitu jauh dari pusat kota. Suatu daerah yang selama ini hanya dikunjungi oleh pihak luar ketika musim pesta politik berlangsung. Tak usah heran. Hal yang terlalu biasa terjadi di sini. Mereka sudah menganggap bahwa semua itu bukan suatu “pelanggaran demokrasi”. Semula tidak demikian. Ada upaya meneriakkan kegetiran yang di rasa. Bukan sekali tapi berkali-kali suara itu diteriakkan. Hingga sampai pada titik mereka tak peduli lagi. Mereka sudah pada taraf “kami hidup dari kami saja”.
Azam sampai ke daerah itu sebenarnya diundang oleh sebuah komunitas. Mereka menamakan komunitasnya dengan Komunitas Anti Mainstream. Tak ada yang begitu istimewa komunitas itu. Hanya terdiri dari para “pengangguran” yang bertekad ingin menjadi pengangguran yang tercerahkan.
Tekad mereka inilah yang membuat Azam berkenan memenuhi undangan mereka. “Siapa mereka”, tanya Azam penasaran.
Sesampainya di sebuah rumah panggung tua yang dicat biru pudar, Azam disambut oleh seorang pria kurus berkacamata tebal, berusia sekitar tiga puluh lima tahun. Rambutnya acak-acakan, tapi matanya tajam seperti orang yang terbiasa membaca buku di bawah lampu temaram.
“Bang Azam?” tanya pria itu sambil tersenyum tipis. “Saya Dani. Ketua—kalau boleh disebut begitu—Komunitas Anti Mainstream.
Mereka berjabat tangan. Genggaman Dani erat dan kokoh.
Di dalam rumah, sekitar delapan orang sudah duduk melingkar di atas tikar anyaman. Ada yang membawa buku bekas, ada yang menggenggam secangkir kopi hitam pekat. Tak ada spanduk, tak ada yel-yel, hanya asap rokok dan hembusan angin yang masuk dari jendela tanpa kaca.
“Kenapa namanya Anti Mainstream?” tanya Azam setelah mereka saling memperkenalkan diri.


Komentar