Yang dimaksud super kaya bukan sekadar memiliki banyak uang. Yang dimaksud adalah memiliki aset kekayaan yang cukup beragam sehingga ketika satu sektor runtuh, sektor lain masih mampu menopang keseluruhan sistem kekayaannya.
Prinsipnya sederhana: jangan menaruh semua telur dalam satu keranjang.
Seseorang mungkin memiliki aset ratusan miliar rupiah. Namun jika seluruh kekayaannya berasal dari kebun sawit dan pabrik pengolahan sawit, maka nasibnya tetap bergantung pada harga sawit. Ketika harga sawit jatuh, kekayaannya ikut jatuh.
Sebaliknya, kelompok super kaya biasanya memiliki aset yang tersebar di berbagai sektor: tanah, perkebunan, industri, perbankan, saham, media, properti, hingga investasi internasional. Mereka juga memiliki cadangan kas (cash flow) yang besar.
Ketika krisis datang dan banyak orang terpaksa menjual aset dengan harga murah, kelompok super kaya justru datang sebagai pembeli. Saat orang lain sibuk menyelamatkan diri, mereka sibuk berbelanja. Jika menggunakan standar industri keuangan global, titik yang biasanya mulai dianggap benar-benar masuk kelas “super kaya yang relatif tahan wabah dan krisis” minimal berada di kisaran US$30–50 juta aset bersih sekitar Rp480–800 miliar (jika kurs masih Rp16.000/USD) atau dikenal dengan istilah UHNWI (Ultra High Net Worth). Ketika keadaan kembali normal, aset yang dibeli pada masa krisis sering kali melonjak nilainya menjadi dua kali lipat. Ketika, salah satu komoditas jatuh dan itu termasuk dari sektor bisnis yang dimiliki, maka orang yang berada pada level super kaya bisa menghadapinya dengan tenang, tidak ada rasa panik, tidak ada emosi, seperti mengandaikan bahwa hal tersebut hanya permainan di papan catur biasa.Ironisnya, bagi sebagian orang, krisis adalah bencana. Bagi sebagian yang lain, krisis adalah musim panen.
Merampok Negara: Merebut Starting Level
Masalahnya, mencapai level super kaya dengan cara yang normal bukanlah perkara mudah.


Komentar