Karena itu, jika anggota masyarakat mengalami depresi akibat kemiskinan, dan kemiskinan tersebut biasanya menghendaki sesuatu sebagai penyebab, maka kita dapat mengandaikan dengan 3 kemungkinan penyebab yang mungkin akan dibayangkan oleh anggota masyarakat kita. Sebab pertama adalah dirinya sendiri, yang memungkinkan individu melakukan evaluasi, namun jika menyalahkan diri sendiri ini dilakukan secara berlebihan semisal anda sudah mencari kerja kemana-mana namun tak kunjung ketemu dan berakhir kerja “daripada” misalnya jadi guru honorer dengan penghasilan 300 ribu perbulan, kemudian menyalahkan diri sendiri atas situasi tersebut tentu ini tidak sehat secara psikis karena dapat berujung depresi.
Kedua, kita dapat mengandaikan ada anggota Masyarakat yang menyangka bahwa kemiskinan yang dialami di sebabkan oleh Tuhan, dalam hal ini karena Tuhan tidak mengabulkan do’a-do’anya, kita dapat mengandaikan bahwa ia adalah orang yang rajin beribadah selalu bersikap baik kepada orang lain bahkan saking baiknya ia tidak ingin menyalahkan orang lain bahkan tidak ingin menyalahkan Pemerintah. Dia mungkin sudah berusaha keras dengan segala macam usaha namun situasi ekonominya tetap saja serba sulit dan ditambah lagi dengan hadirnya berbagai masalah yang akarnya adalah uang. Sepertinya ini dikatakan Nabi bahwa kemiskinan dapat menyebabkan kekufuran. Dalam situasi menyalahkan Tuhan ini, seseorang juga terancam depresi, sebab ia telah kehilangan harapannya yang paling dalam karena itu, menyalahkan Tuhan bukan juga solusi yang sehat secara psikologis. Kita perlu ingat bahwa dahulu manusia di berkati oleh Tuhan dengan sumber daya alam yang melimpah namun setelah perkembangan zaman yang aktor-aktornya adalah manusia-manusia yang berkuasa sehingga kehidupan manusia terjebak dalam situasi ini, sehingga situasi kemiskinan ini tidak layak disebut penyebabnya adalah Tuhan.


Komentar