Saya mengingat ada hal yang kiranya merupakan “pandangan pesimistik namun beresiko” yang terjadi di kalangan Masyarakat bawah, saat hendak mendekati pemilu. Hal itu ditunjukkan dengan sikap misalnya “mau siapapun, Walikotanya, Gubernurnya, anggota-anggota DPR-nya atau bahkan Presidennya hidup kita gini-gini aja” atau ungkapan lain yang intinya serupa. Sebetulnya tidak masalah bersikap pesimistik semacam itu ketika disuguhi oleh calon-calon pejabat negara yang tidak menarik secara kualitas. Disamping itu, pandangan pesimistik semacam itu, membuat Masyarakat kita tidak mengaitkan situasi mereka yang serba sulit itu dengan Pemerintah yang serakah, ini sebetulnya berbahaya bagi situasi Masyarakat sendiri sehingga saya sebut sebagai pandangan yang beresiko, untuk hal ini akan saya jelaskan nanti.
Tapi perlu diingat satu hal, bahwa ketergantungan Masyarakat kita terhadap sistem pemerintah jauh lebih menguat ketimbang di masa lalu. Kita dapat mengandaikan jika di masa lalu, keserakahan Pemerintah dengan korupsi yang membabi buta, Masyarakat kita masih dapat bertahan dengan mengandaikan bahwa saat itu ketahanan pangan keluarga masih cukup baik misalnya kita dapat membayangkan jika di masa lalu selain memiliki sawah, ada banyak tanaman sekitar rumah yang membantu ketahanan pangan keluarga semisal ia tidak memiliki uang sama sekali, sedangkan sekarang, program perumahan rakyat saat ini tidak mendukung untuk urusan ketahanan pangan keluarga. Saat ini, kita dapat mengandaikan ketahanan pangan keluarga itu dapat sementara ditalangi oleh beberapa orang teman yang dapat meminjaminya uang seratus dan berapa limit anda di Pinjol.


Komentar