Nasional Opini
Beranda » DPRD Kabupaten Tidak Tanggap Mengenai Isu Efisiensi Anggaran

DPRD Kabupaten Tidak Tanggap Mengenai Isu Efisiensi Anggaran

David Kasidi,tokoh masyarak aktivis senior Lebong

1. Fungsi Pengawasan yang Lemah dan Seremonial Anggota DPRD seringkali terjebak dalam rutinitas persetujuan anggaran tanpa melakukan deep diving atau penyelidikan mendalam terhadap item-item anggaran yang diusulkan eksekutif. Pertanyaan kritis seperti “Apakah kegiatan ini benar-benar prioritas?”, “Apakah harga satuan ini realistis?”, atau “Adakah alternatif yang lebih murah dengan hasil sama?” seringkali tidak ditanyakan. Pengawasan yang dilakukan pun cenderung after-the-fact, menunggu laporan pertanggungjawaban (LPJ) di akhir tahun, alih-alih melakukan monitoring real-time sehingga ketika ketidakefisienan ditemukan, uang sudah terlanjur dikeluarkan.
2. Politik Transaksional dan “Balas Budi” Hubungan antara DPRD dan Eksekutif (Bupati) sering kali bukan hubungan check and balance yang sehat, melainkan hubungan transaksional. DPRD menyetujui anggaran eksekutif—yang sering kali sarat dengan proyek-proyek yang tidak efisien—sebagai “balas budi” atas dukungan politik atau untuk memastikan anggaran untuk “proyek aspirasi” mereka sendiri disetujui. Dalam dinamika seperti ini, efisiensi menjadi korban pertama. Yang penting proyek jalan, bukan kualitas jalan yang didapat dengan harga terbaik.
3. Kurangnya Kapasitas dan Keahlian Tidak semua anggota DPRD memiliki latar belakang keuangan, akuntansi, atau teknik yang memadai untuk menganalisis dokumen anggaran yang kompleks. Mereka kesulitan membaca red flag seperti mark-up harga, double funding, atau kegiatan fiktif. Alih-alih mempekerjakan tenaga ahli independen untuk membantu analisis, mereka lebih memilih untuk menyetujui saja, yang berujung pada pemborosan anggaran.
4. Prioritas yang Keliru: Aspirasi vs. Kebutuhan DPRD kerap terjebak pada proyek-proyek “aspirasi” yang bersifat seremonial dan jangka pendek (contoh: pembagian seragam, pesta rakyat) yang sangat terlihat di mata konstituen, tetapi dampak pembangunannya minimal. Sementara itu, anggaran untuk hal-hal yang bersifat fundamental tetapi tidak “seksi” secara politik—seperti perbaikan sistem drainase, peningkatan kapasitas SDM, atau maintenance rutin—sering terabaikan atau tidak efisien pengelolaannya.

Dampak yang Ditimbulkan

<< 1 2 3 >>

Laman: 1 2 3

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement