Nasional Opini
Beranda » Starting Level

Starting Level

Fitrah Insani, Penulis Dan Mantan Pengurus Cabang HMI Bengkulu

Oleh :Fitrah Insani

Belakangan ini media sosial ramai memperbincangkan istilah perintis dan pewaris. Sebagian menjadikannya bahan candaan, sebagian lain menggunakannya untuk menjelaskan mengapa ada orang yang tampak begitu mudah mencapai keberhasilan. Untuk itu saya lebih suka menggunakan istilah starting level—titik awal yang berbeda-beda ketika seseorang memulai perjalanan bisnisnya

Bayangkan seorang anak bernama Kaesang. Karena lahir dari keluarga kaya raya, ia diberi kesempatan belajar bisnis oleh orang tuanya. Sebagai tahap awal, ia memperoleh modal yang cukup untuk membuka usaha pisang goreng. Dengan penuh semangat ia memulai usahanya.

Beberapa bulan kemudian usaha itu gagal. Tidak menghasilkan keuntungan, bahkan mungkin merugi. Namun bagi orang tuanya, kegagalan tersebut bukanlah tragedi. Modal yang hilang hanyalah sebagian kecil dari kekayaan mereka. Yang dianggap penting justru pelajaran yang diperoleh.

Kaesang kemudian diminta membuat evaluasi: apa yang salah, apa yang perlu diperbaiki, dan apa yang bisa dipelajari. Setelah laporan selesai, orang tuanya kembali menawarkan modal untuk mencoba usaha lain yang dianggap lebih menjanjikan.

DNA Tak Bisa Dusta, Kakak Kandung Korban Jadi Tersangka

Jika usaha kedua gagal, ia bisa mencoba lagi. Jika gagal lagi, ia bisa mengulanginya sekali lagi. Dan seterusnya.

Bagi keluarga kaya, kegagalan sering kali hanyalah biaya pendidikan yang dibayar secara langsung. Tidak ada tekanan untuk segera berhasil. Tidak ada ancaman kehilangan rumah. Tidak ada utang yang menumpuk. Tidak ada rasa panik ketika usaha bangkrut. Semua dianggap bagian dari proses belajar.

Sekarang bandingkan dengan seseorang yang lahir dari keluarga biasa.

Ia bermimpi memiliki usaha sendiri, tetapi tidak memiliki modal. Untuk memperoleh modal, ia harus bekerja sebagai buruh, pegawai toko, sopir, atau pekerjaan lain selama bertahun-tahun demi mengumpulkan sejumlah modal untuk memulai usaha sendiri. Sebagian penghasilannya ditabung sedikit demi sedikit. Kalau tabungan tidak cukup, ia harus mengajukan pinjaman ke bank.

Perbedaan mendasarnya bukan terletak pada kemauan bekerja keras, melainkan pada titik awal permainan.

Tiga Kandidat Bersaing Ketat Kursi Inspektur Lebong

<< 1 2 3 4 5 >>

Laman: 1 2 3 4 5

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement