Oleh : Fitrah Insani
Saya masih mengingat, semenjak tumbangnya Orde Baru pada 1998 lalu, Pemilu Presiden pertama paska Reformasi itu mampu menelurkan kontestan pemilu yang menakjubkan dalam sejarah Demokrasi kita. Salah satu Kontestan Pemilu tersebut adalah Abdurrahman Wahid, yg memang tidak diragukan lagi kualitas Moral-Intelektual-nya.
Menurut saya, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah salah satu Putra terbaik bangsa, yang ikut dalam kontestasi Pemilu. Selain menyebut Gus dur, saya juga ingin menyebut Nurcholish Majid (Cak Nur) sebagai tokoh yang kualitas Moral-Intelektualnya tidak kalah dengan Gus dur saat itu. Cak Nur, saat itu juga mengikuti konvensi calon Presiden dari partai Golkar, namun ia berhenti di tengah perjalanan karena persoalan teknis. Saya membayangkan jika saat itu Cak Nur juga ikut sebagai salah satu kontestan pemilu, alangkah hebatnya proses Pemilu saat itu yang mampu menghasilkan kontestan pemilu yang kualitasnya merupakan dambaan bagi jalannya salah satu indikator proses demokrasi yang sehat.
Saya mengandaikan jika saat ini pemilu tidak mampu menghasilkan kontestan yang merupakan orang-orang yang memiliki kualitas terbaik. Namun saat ini, pemilu hanya menghasilkan kontestan yang mampu membiayai proses pemilu yang kadung mengharuskan kontestan untuk mengeluarkan biaya mahal.
Kesanggupan untuk membiayai proses pemilu dengan angka biaya yang fantastis itu, kita hanya dapat mengandaikan jika kontestan itu memiliki kapasitas sebagai “beruang”, atau ditambahkan kontestan tersebut memiliki sumber pembiayaan dari pihak kedua dengan komitment pembagian kue apabila ia berhasil meraih kemenangan.
__________________________


Komentar