Data visual di lapangan menunjukkan, pasca MT I yang lalu, ribuan hektare sawah di Lebong tidak menghasilkan apa-apa. Sayangnya, lahan tersebut juga tidak dialihfungsikan menjadi area budidaya ikan air tawar (mina padi) atau tanaman palawija seperti jagung, kedelai, kacang tanah, cabai, maupun sayuran musiman yang memiliki nilai jual tinggi.
“Petani kita masih berpikir musiman. Tanam, panen, lalu tunggu musim berikutnya. Padahal, air irigasi masih tersedia, tanah masih subur. Ini pemborosan aset daerah yang luar biasa,” ujar Rama.
Solusi Konseptual: Tiga Musim Tanam dan Pilot Project 200 Hektare
Untuk memutus siklus paceklik sekaligus meningkatkan pendapatan petani dan perputaran ekonomi daerah, Rama Candra mengusulkan formula ideal: Tiga Kali Musim Tanam (TMT) dalam setahun dengan pola spesifik.
· Musim Tanam I (MT I): Padi (beras untuk kebutuhan pokok)
· Musim Tanam II (MT II): Mina Padi kembali (atau beralih ke varietas unggul tahan hama)
· Musim Tanam III (MT III): Palawija/holtikultura bernilai ekonomi tinggi
“Agar tidak sekadar wacana, langkah awal yang harus dilakukan Pemkab dan DPRD adalah membuat program percontohan (pilot project) tanam serentak 200 hektare dalam satu Daerah Irigasi yang sama. Ini penting untuk melihat efektivitas, mengukur hasil, sekaligus menjadi model bagi kelompok tani lainnya,” jelas Rama.
Ia menekankan, keberhasilan pilot project ini membutuhkan tiga syarat mutlak: (1) kemauan politik kuat dari eksekutif dan legislatif, (2) pendampingan teknis dan bantuan sarana produksi (benih, pupuk) dari dinas terkait, serta (3) jaminan pasar hasil panen.
Peluang Raksasa dari Program MBG (Makan Bergizi Gratis)
Di tengah kondisi paceklik, program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) justru menjadi berkah terselubung. Setiap Dapur SPPG di Lebong, setiap hari selama 4-5 hari dalam seminggu, membutuhkan pasokan bahan baku dalam jumlah besar: beras, ikan segar, sayur-mayur, buah-buahan, hingga bumbu rempah.


Komentar