“Gerakan ini lahir karena kasus-kasus yang jadi atensi publik. Contohnya PPJU 10%—setiap bulan rakyat dipalak lewat rekening listrik, tapi jalanan tetap gelap. Kalau malam, Lebong bak kota mati,” ungkapnya pedas.
Urpi juga menyerukan agar masyarakat ikut bergerak:
“Kita semua ditarik 10% dari rekening PLN, tapi apa balasannya? Jalan masih gulita. Kalau rakyat diam saja, kebobrokan ini akan terus berulang.”
Bola Panas di Tangan Bupati
Kini bola panas berada di tangan Bupati Azhari. Apakah ia berani menanggapi tuntutan melalui audiensi terbuka? Atau justru memilih bungkam, membiarkan gelombang aksi terus membara?
Satu hal jelas: PAMAL berjanji tidak akan berhenti. Gerakan bersih-bersih ini sudah menjadi magnet perhatian publik. Jika pemkab terus menutup telinga, Lebong berpotensi diguncang aksi tanpa henti sepanjang tahun.(Red)


Komentar