- TGR berdasarkan LHP BPK RI Bengkulu, yang ada di Pemkab Lebong semenjak pemerintahan Dalhadi Umar sampai pemerintahan Kopli Ansori
- Permasalahan Aset Pemkab Lebong yang dinilai publik selama ini tidak becus dalam pengelolaannya dan berdasarkan info terakhir yang santer di tengah publik Lebong banyak aset Lebong sudah hilang.
- Permasalahan PPJU (Pajak Penerangan Jalan Umum) yang ditarik 10% dari tagihan listrik setiap pelanggan yang ada di kabupaten Lebong tanpa sosialisasi PERDA nya kepada masyarakat tentang jumlah pungutan dan kegunaan pungutan tersebut untuk penerangan jalan umum
- Permasalahan netralitas ASN kabupaten Lebong yang terpapar virus pilkada tahun 2024 kemaren cenderung penerapan sangsi nya tidak transparan dan tebang pilih terhadap 69 ASN yang diduga tidak netral tersebut.
- Permasalahan pengangkatan beberapa PJS kepala desa unprosedural dan berpotensi pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku.
- Permasalahan pemberhentian beberapa perangkat desa oleh oknum PJS kepala desa diduga melanggar aturan malahan ada yang sudah menempuh upaya hukum ke PTUN Bengkulu.
- Permasalahan PILKADES yang sempat tertunda semenjak zaman kopli Ansori
- Permasalahan APH (Aparat Penegak Hukum) cenderung mendramatisir penegakan hukum di kabupaten Lebong ini diduga banyakan DUMAS (Pengaduan Masyarkat) atas dugaan tindak pidana korupsi banyak yang tidak di tanggapi atau di proses.
Ultimatum Aktivis: “Kami Tidak Akan Berhenti!”
Aktivis kawakan Lebong, Domer, menegaskan aksi ini bukan main-main.
“Kami tidak akan berhenti sampai satu tahun penuh kecuali Bupati Lebong komit dan tegas memenuhi tuntutan kami—khususnya soal netralitas ASN, pengembalian TGR, penertiban aset, dan pemecatan perangkat desa oleh oknum PJS Kades,” tegas Domer.
Menurutnya, Bupati Azhari tak bisa lagi bersembunyi di balik alasan klasik.
“Kami tidak mau lagi mendengar distraksi penuh drama. Bupati harus terbuka ke publik. Benar katakan benar, salah katakan salah,” tandasnya.
Urpi: “Ini Bukan Sensasi, Tapi Kewajiban Moral”
Sekjend PAMAL, Urpi, menepis anggapan bahwa aksi setahun ini sekadar mencari panggung.


Komentar