Oleh karena itu, tugas filosofis kita hari ini adalah menjaga agar Pancasila tetap menjadi perspektif hidup, bukan dogma mati. Kita harus terus-menerus mengelaborasi sila-sila itu, bukan untuk mencari definisi final, melainkan untuk menjaga horizon tetap terbuka. Kritik harus diterima sebagai bagian dari proses itu, bukan sebagai ancaman. Dan negara harus merespons dengan elaborasi yang sama, dengan ketulusan yang sama, dengan kesadaran bahwa kemanusiaan kita adalah “yang”—selalu dalam perjalanan, selalu menuntut kita untuk menjadi lebih adil, lebih beradab.
Dengan cara itulah Pancasila akan tetap menjadi sumber élan vital bangsa: semangat hidup yang tidak pernah padam, karena ia tidak pernah mengaku telah tiba pada akhir perjalanan kemanusiaan. Terpenting, bahwa perspektif Pancasilais merupakan pilihan strategis sekaligus substansial dalam bernegara — tak semata hanya perspektif negara hukum.
* Penulis Adalah Founder Azam Community, Aktif di kelompok diskusi Dilarang Gondrong Serta Di kajian Gerakan Masyarakat Sipil. Berdomisili di Propinsi Bengkulu. *
” Susunan Kata dan Kalimat Asli Karya Penulis Tanpa ada perubahan apapun dari Redaksi”


Komentar