Oleh: Mashuri.SE (AWI)
Janji di Atas Puing-Puing Kepercayaan
Kabupaten Lebong, Bengkulu — Sejak dilantik, Azhari, SH, MH, Bupati Lebong, telah menempatkan dirinya sebagai simbol harapan baru. Visi misinya menggaung di setiap sudut kampanye: transparansi, penuntasan masalah keuangan daerah, penertiban aset, dan perbaikan birokrasi.
Retorika politiknya memukau, penuh semangat perubahan yang seolah siap membongkar tradisi korupsi dan inefisiensi yang telah lama membelenggu.
Namun, di balik pidato yang berapi-api, tersimpan pertanyaan besar yang menggelayuti benak rakyat Lebong: apakah konsistensi antara ucapan, hati, dan perbuatan benar-benar ada? Ataukah ini hanya sandiwara elit untuk mempertahankan kekuasaan, sementara rakyat terus terpuruk dalam lingkaran masalah yang sama?
Tulisan ini akan mengupas tuntas performa kepemimpinan Azhari melalui lensa kritis, dengan fokus pada tiga pilar utama: respons terhadap temuan LHP BPK RI, realisasi janji penataan aset dan birokrasi, serta geliat perlawanan rakyat yang semakin mengkristal.
Dengan analisis mendalam dan data pendukung, kami berusaha menjawab apakah Azhari layak disebut sebagai agen perubahan atau sekadar aktor dalam drama politik yang usang.
-LHP BPK RI: Cermin Kelam dan Ujian Integritas
Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI bukan sekadar dokumen administratif; ia adalah cermin kelam yang memantulkan kondisi keuangan Lebong yang masih sarat celah korupsi, inefisiensi, dan ketidaktransparanan.
Beberapa temuan krusial dalam LHP terbaru mencakup:
-Tuntutan ganti rugi yang belum tuntas, baik dari oknum pejabat maupun pihak ketiga, yang menunjukkan lemahnya penegakan hukum dan akuntabilitas.
-Penyimpangan dalam pengelolaan anggaran seperti penggunaannya yang tidak sesuai dengan peruntukan, indikasi mark-up, dan belanja yang tidak efektif.
-Kelemahan sistem pengendalian internal yang memudahkan terjadinya fraud dan penyalahgunaan wewenang.
Masyarakat menunggu langkah nyata, bukan sekadar pernyataan politik atau pembentukan tim investigasi yang akhirnya mangkrak.
Jika Azhari serius dengan komitmennya, ia harus berani menelusuri hingga ke akar masalah, menindak tegas setiap pihak yang terlibat, dan memulihkan kerugian negara tanpa pandang bulu.


Komentar