Salah satu fungsi utama nasionalisme hegemonik adalah menjinakkan kritik struktural. Dalam banyak konteks, kritik terhadap ketimpangan ekonomi, privatisasi sumber daya, atau dominasi elite sering dibalas bukan dengan argumen rasional, melainkan dengan tuduhan moral:
●tidak cinta tanah air
●merusak persatuan
●mengancam stabilitas nasional
Di titik ini, nasionalisme bekerja bukan sebagai ide emansipatoris, melainkan sebagai alat depolitisasi. Ketimpangan tidak dibahas sebagai persoalan sistem, melainkan sebagai konsekuensi tak terhindarkan dari “proses pembangunan nasional”.
Narasi nasionalisme hampir selalu disertai dengan mitos pengorbanan:
●rakyat diminta bersabar
●menunda kesejahteraan
●menerima kesenjangan demi masa depan bangsa
Namun Gramsci mengingatkan bahwa pengorbanan ini tidak pernah dibagi secara simetris. Mereka yang berada di bawah struktur kelas menanggung beban paling berat, sementara elite ekonomi-politik tetap menikmati keuntungan dari sistem yang sama.
Nasionalisme, dalam hal ini, berfungsi sebagai rasionalisasi moral atas ketimpangan: penderitaan dipersembahkan sebagai jasa, bukan sebagai ketidakadilan.
Negara modern tidak hanya mengelola hukum dan kekerasan, tetapi juga memproduksi makna. Melalui kurikulum pendidikan, peringatan sejarah, simbol-simbol nasional, dan media, negara menanamkan versi nasionalisme yang selaras dengan kepentingan kelas dominan.
Gramsci menyebut ini sebagai kerja intelektual organik negara—mereka yang merumuskan narasi kebangsaan sedemikian rupa sehingga:
●struktur ekonomi tampak alamiah
●ketimpangan tampak tak terhindarkan
●kritik radikal tampak ekstrem
Dengan demikian, nasionalisme tidak berdiri netral, melainkan beroperasi di dalam relasi kuasa.
Penting ditegaskan bahwa kritik ini bukan penolakan mutlak terhadap nasionalisme. Dalam konteks kolonial, nasionalisme pernah bersifat progresif dan emansipatoris. Namun dalam masyarakat pasca kolonial kapitalistik, nasionalisme cenderung mengalami pembajakan ideologis.
Nasionalisme berhenti menjadi alat pembebasan, dan berubah menjadi:
●perekat sosial
●penenang konflik
●penunda kesadaran kelas
Di sinilah letak paradoksnya: nasionalisme menyatukan secara simbolik, tetapi membiarkan ketimpangan material tetap utuh.


Komentar