Lebong, Dipatriot.com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebong mengungkapkan serangkaian langkah penanganan pascabencana banjir yang melanda wilayah setempat. Mulai dari koordinasi dengan pemerintah daerah hingga penyusunan kajian kebutuhan darurat. Namun, langkah ini dinilai belum cukup oleh aktivis dan mahasiswa setempat yang mendesak BPBD lebih agresif mengejar dana bantuan ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Kepala BPBD Lebong, Saprul.S.E, melalui pernyataan resmi yang dirilis, Sabtu (16/5/2026), menjelaskan bahwa pihaknya telah melaporkan dampak bencana dan upaya penanganan kepada Bupati Lebong melalui Sekretaris Daerah (Sekda).
“Kami sudah melaporkan ke bupati melalui sekda. Saat ini, BPBD tinggal menunggu arahan selanjutnya. Apabila ada anggaran dan diperintahkan, kami siap bergerak sesuai prosedur,” ujar Saprul.
Tak hanya itu, BPBD juga mengaku telah berkoordinasi dengan sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, seperti Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim), serta Dinas Pertanian. Koordinasi ini mencakup masalah infrastruktur yang terdampak banjir.
Jitupasna Sudah Dilakukan, Proposal Segera Diajukan ke BNPB
Salah satu langkah konkret yang diklaim telah dijalankan BPBD Lebong adalah Jitupasna (Kajian Kebutuhan Pasca Bencana). Kajian ini menjadi dasar penyusunan proposal bantuan yang akan diajukan ke BNPB Pusat.
“Kami sudah melakukan Jitupasna. Ini untuk pengajuan proposal ke BNPB,” jelas pihak BPBD.
Dalam rilis yang sama, BPBD juga membeberkan data sementara terkait kerusakan dan korban akibat bencana banjir yang melanda Lebong beberapa waktu lalu. Dan merinci secara angka, BPBD menyebut kerugian infrastruktur cukup besar dan berdampak langsung pada aktivitas ekonomi masyarakat
Release Data dibawah ini :

Aktivis dan Mahasiswa: Lobi Gencar, Libatkan Wakil Rakyat di Senayan!
Pernyataan BPBD yang mengaku “menunggu arahan” dan “menyerahkan proposal lalu nunggu” mendapat sorotan tajam dari kalangan aktivis dan mahasiswa. Mereka menilai pendekatan pasif semacam itu tidak akan pernah cukup untuk mengatasi besarnya kerusakan infrastruktur di Kabupaten Lebong.


Komentar