“Kemaren luber Air Kotok, hari ini luber Air Ketahun. Coba bayangkan kalau dua sungai besar ini sama-sama meluap secara bersamaan—Lebong akan tenggelam. Ini hasil kajian kita bersama,” ujar Domer dengan tegas.
Domer tidak hanya berbicara soal prediksi bencana. Ia juga melontarkan kritik pedas terhadap gaya penanganan bencana yang selama ini kerap dilakukan oleh para pemimpin daerah. Menurutnya, turun ke lapangan sambil membagikan mi instan, mendirikan dapur umum, apalagi menjadikan momen bencana sebagai ajang pencitraan, adalah tindakan usang dan tidak efektif.
“Bencana ini tidak bisa diratapi. Masyarakat sekarang butuh solusi konkret, bukan sekadar mi instan dan dapur umum, apalagi ajang pencitraan. Itu menghina akal sehat warga,” kecam Domer dengan ketus.
Tokoh Senior David Kasidi: Hilangkan Ego Sektoral, Alihkan Anggaran
Di tengah kegentingan ini, tokoh senior Kabupaten Lebong, David Kasidi, memberikan solusi tegas. Melalui Dipartriot.com, ia menyebut bahwa Lebong saat ini membutuhkan penanganan serius dan kajian mendalam terhadap bencana beruntun yang terjadi di wilayah yang oleh masyarakat adat disebut “Swarang Patang Stumang” ini.
David Kasidi mengajak semua elemen untuk duduk bersama, menghilangkan sekat-sekat kepentingan.
“Mari kita hilangkan ego sektoral kita masing-masing. Baik eksekutif, legislatif, yudikatif, NGO, pers, tokoh adat, akademisi, dan masyarakat. Kita harus bergandengan tangan untuk memitigasi bencana ini. Duduk dalam satu meja,” serunya.
Tawaran solusi konkret dari David adalah pengalihan anggaran. Menurutnya, alihkan anggaran yang tidak jelas pemanfaatannya ke sektor mitigasi bencana. Selain itu, ia menekankan pentingnya mulai dari pengelolaan dan pengawasan lingkungan hidup hingga penegakan hukum.
“Kalau seperti ini terus, 10 tahun lagi Lebong akan makin terdegradasi. Lebih banyak kerugian akan menimpa Lebong. Jangan tunggu semuanya hancur baru kita sadar,” jelas David.
Hingga Berita Ini Diturunkan, Pemda Lebong masih bungkam


Komentar