Sudah waktunya Lebong bertobat secara nasuha—tobat yang sungguh-sungguh, bukan hanya simbolis. Tobat itu harus dimulai dari para pemimpin: hentikan perjalanan dinas yang tidak darurat, alihkan anggaran untuk membangun sistem peringatan dini, sediakan stok logistik yang memadai, dan tunjukkan bahwa nyawa rakyat lebih berharga daripada delegasi di luar daerah.
Rakyat tidak butuh janji pasca-bencana yang macet birokrasi. Rakyat butuh Bupati yang hadir, dapur umum yang berasap, dan tenda pengungsian yang layak.
Jika tiga kematian dan tiga kali banjir bandang belum juga menyentuh hati nurani para pejabat Lebong, maka sungguh, rakyat berhak memilih pemimpin lain di masa depan. Karena pemimpin yang sesungguhnya bukanlah mereka yang pandai terbang ke Jakarta, melainkan mereka yang tak gentar berdiri di genangan air menemui rakyatnya.
Lebong berduka. Dan duka ini jangan dibiarkan menjadi bait-bait panjang dalam catatan hitam sejarah daerah. Mari bangun Lebong dari reruntuhan moral ini.
Penulis adalah putra daerah yang prihatin dan mencintai Lebong.


Komentar