Nasional Opini
Beranda » Lebong Berduka di Tengah Ketidakhadiran Bupati

Lebong Berduka di Tengah Ketidakhadiran Bupati

Apakah ada investor triliunan rupiah yang menanti di Jakarta? Atau sekadar rapat koordinasi yang sesungguhnya bisa dilakukan secara daring di tengah darurat bencana? Jika selama ini perjalanan dinas tidak pernah memberikan dampak nyata bagi kemajuan ekonomi Lebong pertumbuhan yang itu-itu saja, investasi yang masih angan-angan maka legitimasi perjalanan itu pantas dipertanyakan.

Milyaran untuk Perjalanan, receh untuk Dapur Umum

Yang lebih memprihatinkan lagi adalah kondisi logistik. Laporkan fakta menyedihkan: stok logistik di BPBD dan Dinas Sosial Kabupaten Lebong sangat memalukan, bahkan untuk mendirikan dapur umum. Padahal, dalam setiap tanggap darurat bencana, dapur umum adalah garis kehidupan pertama bagi para korban yang kehilangan tempat tinggal dan akses pangan.

Lalu ke mana aliran anggaran  kebencanaan selama ini? Bukan sekali dua kali bahwa akar masalahnya seringkali terletak pada anggaran perjalanan dinas yang membengkak, baik dalam maupun luar daerah.

Miliaran rupiah uang rakyat yang seharusnya disisihkan untuk stok logistik, evakuasi, alat berat, dan kebutuhan pasca-bencana habis untuk tiket pesawat, hotel, dan uang saku pejabat. Inilah bentuk kebijakan yang tidak pro-rakyat. Ini bukan soal efisiensi atau “ketebeleke” lainnya, ini soal salah urus prioritas.

DNA Tak Bisa Dusta, Kakak Kandung Korban Jadi Tersangka

Bencana Bertubi-tubi: Sebuah Teguran

Kita boleh saja menyebut ini sebagai musibah alam. Tapi ketika bencana datang tiga kali beruntun dalam waktu singkat, masyarakat Lebong yang religius dan menjunjung adat tentu tak bisa menutup mata. Bencana ini bisa jadi adalah teguran keras, tidak hanya bagi para pemimpin yang abai, tetapi juga bagi kita semua yang mungkin selama ini lalai menjaga sungai, lalai menjaga tata ruang, dan lalai mengingatkan penguasa.

Air sungai yang meluap bukan sekadar peristiwa hidrologi; ia adalah cermin dari longgarnya kontrol sosial dan lemahnya tata kelola. Jika para pejabat lebih sering berada di ruang ber-AC di Jakarta daripada di bantaran sungai Kotok atau Ketahun, maka jangan salahkan alam yang terusik.

Ajakan Tobat Nasuha: Saatnya Lebong Bangkit di Atas Kesadaran

Tiga Kandidat Bersaing Ketat Kursi Inspektur Lebong
<< 1 2 3 >>

Laman: 1 2 3

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement