Antara Musibah Bertubi-tubi dan Ujian Integritas Kepemimpinan.
Oleh : Mashuri (AWI)
Tiga kali dalam kurun waktu berdekatan, tanah Lebong diguncang duka. Bukan oleh gempa, melainkan oleh amukan air yang lahir dari rahim alam yang sedang murka. Banjir bandang berturut-turut meluluhlantakkan sejumlah kecamatan, dimulai dari luapan Sungai Kotok dan Amen, Kemaren banjir oleh Sungai Ketahun, hingga tragedi paling menyayat hati di Air Kemaceak Lemeu, Kecamatan Uram Jaya, di mana tiga nyawa siswa remaja melayang, terseret arus yang tak kenal ampun.
Ini bukan sekadar bencana musiman. Ini adalah bencana yang berlapis-lapis, baik dari segi frekuensi maupun dampak psikologis bagi warganya. Namun, ironi besar tersaji di saat krisis: para pengambil kebijakan, mulai dari Bupati hingga jajaran pejabat utama Lebong, sedang berada di Jakarta dalam sebuah perjalanan dinas. Pertanyaan besarnya kemudian menggelinding: seberapa urgenkah..?, perjalanan itu sehingga Bupati dan para pejabat Lebong tidak kembali dari Jakarta di tengah rakyatnya yang tenggelam?
Di Saat Air Naik, Integritas Diuji
Tidak ada yang melarang pejabat daerah melakukan kunjungan kerja. Namun, dalam manajemen kepemimpinan krisis, kehadiran pemimpin pertama adalah non-negotiable. Bupati adalah simbol komando, penggerak logistik, dan perekat moral bagi warga yang trauma. Ketika air mulai naik pukul 4.50 pagi dan rumah-rumah serta lahan pertanian mulai tenggelam, rakyat Lebong tidak butuh pidato dari Jakarta—mereka butuh seorang bupati yang bisa memeluk ketakutan mereka secara langsung di lokasi bencana.
Ini bukan soal teknis semata. Ini soal solidaritas dan rasa cinta pada daerah. Jika seorang kepala daerah memilih tetap bertahan di Jakarta saat wilayahnya dilanda banjir bandang berturut-turut, maka rakyat berhak menilai bahwa prioritas sedang kacau.


Komentar