Oleh: Romi Munandar
Nasionalisme sering dipahami sebagai energi pemersatu: rasa memiliki terhadap tanah air, solidaritas kolektif, dan komitmen bersama atas nasib bangsa. Dalam narasi resmi negara, nasionalisme diposisikan sebagai kebajikan moral—bahkan prasyarat keutuhan sosial. Namun, dalam perspektif kritik Marxis yang dikembangkan oleh Antonio Gramsci, nasionalisme justru perlu dibaca secara lebih problematik: bukan sekadar sebagai ideologi persatuan, melainkan sebagai mekanisme hegemonik yang kerap berfungsi merekatkan ketimpangan struktural agar tampak wajar, sah, dan tak terelakkan.
Tulisan ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa nasionalisme, alih-alih membongkar relasi timpang dalam masyarakat, sering kali bekerja sebagai lem ideologis yang menyatukan kelas-kelas yang secara material memiliki kepentingan bertentangan, sekaligus meredam potensi kritik terhadap struktur ekonomi-politik yang eksploitatif.
Antonio Gramsci menggeser fokus Marxisme klasik dari dominasi ekonomi semata menuju dominasi kultural dan ideologis. Bagi Gramsci, kekuasaan tidak bertahan hanya melalui paksaan (force), melainkan melalui persetujuan (consent). Persetujuan ini dibentuk dalam ranah masyarakat sipil—pendidikan, media, agama, budaya populer—yang secara perlahan membentuk apa yang disebut sebagai common sense.
Nasionalisme, dalam konteks ini, adalah salah satu bentuk common sense yang paling efektif. Ia tidak tampil sebagai doktrin kaku, melainkan sebagai perasaan alami: cinta tanah air, bangga menjadi bagian dari bangsa, rela berkorban demi negara. Justru karena tampil sebagai emosi moral, nasionalisme jarang dipertanyakan secara kritis.
Dalam masyarakat kapitalis, struktur sosial ditandai oleh ketimpangan kelas: pemilik modal dan pekerja berada dalam relasi yang tidak setara. Namun nasionalisme bekerja dengan cara: Mengaburkan batas kelas
Menggantinya dengan identitas kolektif: kita sebangsa
Dengan demikian:
●Buruh dan pemilik modal dipanggil atas nama bendera yang sama
●Ketimpangan upah dibingkai sebagai “pengorbanan demi bangsa”
Kritik ekonomi mudah dicap sebagai “tidak nasionalis”
Gramsci akan menyebut ini sebagai penyatuan ideologis yang menutupi fragmentasi material. Nasionalisme menjadi bahasa bersama yang memungkinkan eksploitasi berlanjut tanpa perlawanan terbuka, karena konflik kelas telah ditransformasikan menjadi isu loyalitas nasional.


Komentar