Aksi gotong-royong yang dimulai pada 13 Mei 2026 itu diikuti oleh 135 petani kebun dari tiga wilayah utama: Tebet Daet, Bioa Te’ep, dan Ulau Tlun. Mereka datang lengkap dengan peralatan masing-masing. Tidak ada satu pun material yang berasal dari pemerintah. Semen, pasir, batu kali, bahkan makanan untuk pekerja, semuanya hasil iuran sukarela.
“Kami sadar, pembangunan bukan hanya tugas pemerintah. Tapi jangan sampai pemerintah tidur nyenyak saat rakyatnya berjuang sendirian. Kami tidak menolak bantuan, tapi sayangnya, sampai hari ini tidak ada yang datang,” sindir Eko dengan nada tajam.
Aksi ini akan digelar secara rutin setiap hari Rabu hingga target rehabilitasi selesai. Dengan semangat kebersamaan, para petani optimis jalan sepanjang satu kilometer itu akan kembali layak dilintasi dalam beberapa pekan ke depan.
Pertanyaan Besar untuk Pemerintah Daerah
Keberanian petani Desa Turan Tiging menjadi cermin sekaligus tamparan keras bagi birokrasi di Kabupaten Lebong. Bagaimana mungkin sebuah infrastruktur vital bagi ketahanan pangan lokal dibiarkan hancur selama 18 tahun? Di mana alokasi dana desa, dana bagi hasil, atau program ketahanan pangan yang selalu digembar-gemborkan?
DIPATRIOT.com belum mencoba mengonfirmasi Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Lebong serta Pemerintah Kecamatan Lebong Selatan, hingga berita ini diturunkan
Yang jelas, rakyat kembali mendahului negaranya. Di tengah maraknya janji pembangunan, di Lebong selatan, hanya gotong-royong dan keringat warga yang mampu mengalahkan karat birokrasi selama 18 tahun. (Red/dpt)


Komentar