Daerah Lebong
Beranda » 18 Tahun Terkatung-Karat, Jalan Usaha Tani di Lebong Diselamatkan Petani Swadaya: Pemerintah Mana?

18 Tahun Terkatung-Karat, Jalan Usaha Tani di Lebong Diselamatkan Petani Swadaya: Pemerintah Mana?

Lebong, Dipatriot.com – Ratusan petani di pedalaman Kabupaten Lebong, Bengkulu, akhirnya mengambil alih tanggung jawab yang seharusnya menjadi kewajiban negara. Setelah 18 tahun menanti tanpa kepastian, mereka turun langsung ke ladang dengan cangkul, sekop, dan gotong-royong membangun kembali Jalan Usaha Tani (JUT) Simpang Dukau-Bioa Te’ep yang nyaris ambruk total.

Aksi heroik ini terjadi di Desa Turan Tiging, Kecamatan Lebong Selatan. Jalan sepanjang hampir satu kilometer itu pertama kali dibangun pada tahun 2008. Namun, sejak saat itu hingga awal tahun 2026, tidak pernah ada satu pun proyek perbaikan—baik dari anggaran desa, dana kecamatan, maupun Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Lebong.

“Jalan ini sudah kami lewati selama 18 tahun tanpa renovasi. Sekarang kondisinya memprihatinkan, nyaris tidak bisa dilintasi. Sebelum benar-benar putus dan menghancurkan ekonomi kami, kami memilih bergerak sendiri,” ujar Eko Wijaya, tokoh pemuda sekaligus inisiator aksi, kepada DIPATRIOT.com di sela-sela kerja bakti, Rabu (13/5/2026).

Ironi Pembiaran: Lumbung Pangan di Ujung Jalan Rusak

Wilayah Simpang Dukau-Bioa Te’ep dikenal sebagai salah satu sentra produksi pertanian di Lebong. Di kawasan ini, petani mengelola kebun sayur, kopi, dan palawija yang hasilnya menjadi tulang punggung ekonomi puluhan keluarga. Namun, selama hampir dua dekade, akses mereka menuju lahan pertanian dipenuhi lubang, tanjakan licin, dan genangan air saat hujan.

DNA Tak Bisa Dusta, Kakak Kandung Korban Jadi Tersangka

“Setiap kali musim panen, kami harus membayar ongkos angkut dua kali lipat. Banyak hasil terhambat  di perjalanan karena jalan rusak. Ini bukan sekadar soal jalan, tapi soal bertahan hidup,” keluh salah seorang petani, yang enggan disebutkan namanya.

Ironisnya, aksi swadaya ini justru lahir setelah hampir seluruh saluran aspirasi warga kandas. Ribuan laporan dari kepala desa hingga wakil rakyat tak pernah berujung pada tindakan nyata. “Kami lelah menunggu janji. Lebih baik kami berkeringat bersama daripada terus berpangku tangan,” tegas Eko.

Warga dengan swadaya sendiri melakukan perbaikan

Semangat Swadaya: Semen, Pasir, dan Keringat Rakyat

<< 1 2 >>

Laman: 1 2

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement