Lebong, dipatriot.com – Krisis air PDAM Lebong, warga menuntut solusi nyata, slogan “Keras Dulu Baru Berair” yang pernah digaungkan Direktur PDAM Tirta Tebo Emas, Wilyan Bactiar, saat pemilihan direktur PDAM TTE tahun lalu, kini terasa ironis. Alih-alih air mengalir, puluhan warga Lebong, Kecamatan Amen, dan sekitarnya justru harus mendatangi kantor PDAM Lebong, Jumat (02/10/2026), untuk menuntut hak dasar mereka: air bersih. Sudah hampir sepekan, bahkan berbulan-bulan, air tidak mengalir sempurna ke rumah-rumah warga.
“KamI sudah cek semua, dan kami sudah tidak tahan lagi dengan keadaan seperti ini. Hampir tiap malam tidak tidur menunggu giliran air hidup,” ujar seorang warga dengan nada frustrasi. Kedatangan mereka pagi itu tidak disambut langsung oleh Direktur PDAM. Hanya beberapa staf yang menerima keluhan, tanpa solusi konkret yang bisa langsung dirasakan.

Tampak Mobil Tangki Air Aset PDAM Lebong Mangkrak Seharusnya Bisa Jadi Fasilitas Distribusi Darurat Untuk Warga
Di sisi lain, pihak PDAM mengklaim telah bergerak. Salah satu pegawai PDAM Lebong, (Gzn), mengungkapkan bahwa masalah utamanya adalah tidak ada air dari sumber atau intake. “Kami sudah berusaha menutup semua jaringan agar sumber Ladang Palembang bisa mengalir ke kawasan yang krisis air, tapi tetap air tidak mengalir,” ungkapnya.
Pernyataan tersebut dikuatkan oleh Direktur PDAM, Wilyan Bactiar, saat dihubungi media ini. Ia menyatakan telah memerintahkan pegawai untuk menutup aliran dari berbagai sumber, khususnya Ladang Palembang, agar fokus ke lokasi krisis. “Saya sudah perintahkan beberapa orang pegawai untuk menutup aliran lain agar terfokus ke lokasi krisis air, yang berasal dari sumber Ladang Palembang, dan memang air tidak ada, bukan sengaja tidak mengalirkan,” jelas Wilyan.
Namun, kondisi di lapangan jauh lebih memprihatinkan. Beberapa bulan lalu, penelusuran media dipatriot.com, mengungkap bahwa warga di kawasan Amen, Sungai Gerong, dan Sukau Rajo telah berbulan-bulan tidak mendapat akses air. Mereka terpaksa membeli air dari pihak ketiga dengan harga fantastis: satu tangki Tedmon seharga Rp 80 ribu, itupun hanya bertahan 24 jam. Krisis ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut.
Aktivis senior Lebong, Arwan Basirin, menilai permasalahan ini terlalu besar untuk ditangani sendiri oleh direktur PDAM yang baru. “Dalam menuntaskan krisis air PDAM Lebong ini harus ada campur tangan Bupati Lebong dan pihak DPRD Lebong. Kalau tidak, permasalahan ini tidak akan mampu di-handle sendiri oleh direktur PDAM baru walau semangatnya menggebu,” tegas Arwan. Ia mendesak agar Bupati dan DPRD segera memanggil direktur PDAM untuk mencari solusi bersama, baik melalui skema hibah maupun melibatkan pihak ketiga dalam menuntaskan masalah air bersih ini.
Selanjut, Arwan, menjelaskan Krisis air di Lebong bukan sekadar persoalan teknis, melainkan sudah menjadi persoalan kemanusiaan.” Warga telah berbulan-bulan menanggung beban ekonomi dan sosial akibat kelangkaan air. Janji “Keras Dulu Baru Berair” kini menjelma menjadi mimpi buruk, saya mengatakan ini berdasarkan fakta dilapangan ‘ jelas Arwan .
Publik berbagai elemen masyarakat khususnya masyarakat pelanggan PDAM Lebong menuntut tindakan nyata, bukan sekadar pernyataan. Bupati dan DPRD Lebong harus segera turun tangan, memastikan PDAM Lebong bekerja dengan kapasitas penuh, dan mencari solusi permanen. Jika tidak, slogan itu akan selamanya menjadi pengingat pahit bagi warga yang haus akan air bersih. (5W1D)


Komentar