Nasional Opini
Beranda » Pencitraan di Atas Penderitaan, Ketika Jarak Antara Retorika dan Realita Semakin Menganga

Pencitraan di Atas Penderitaan, Ketika Jarak Antara Retorika dan Realita Semakin Menganga

Oleh : Mashuri.

Publik Melihat merasa Geli dan Menilai Pencitraan Zulkipli Hasan  Gaya Umar Bin Khatab Zaman Now.

Aksi gotong royong mengangkat beras oleh seorang pejabat tinggi seharusnya menjadi pemandangan yang membanggakan, mencerminkan kesederhanaan dan kedekatan dengan rakyat. Namun, ketika aksi itu terasa seperti skenario yang dipaksakan, meniru-niru gaya kepemimpinan legendaris seperti Umar bin Khattab RA, yang muncul justru dinilai publik adalah kemunafikan yang mencolok mata.

Perbandingannya sangat timpang dan justru mengungkap paradoks yang memilukan.

Umar bin Khattab: Kepemimpinan yang Lahir dari Integritas Hakiki

DNA Tak Bisa Dusta, Kakak Kandung Korban Jadi Tersangka

Kisah Khalifah Umar membawa karung gandum untuk keluarga yang kelaparan adalah puncak gunung es dari konsistensi hidupnya yang asketis dan takut hanya kepada Allah.Itu bukan pencitraan, melainkan karakter sejati yang terbukti dalam setiap aspek:

· Kesederhanaan yang otentik: Bajunya bertambal, tidur di teras masjid, menolak kemewahan duniawi.

· Ketaatan yang ketat: Melarang kerabatnya mengambil jabatan publik untuk mencegah nepotisme dan konflik kepentingan.

· Kepemimpinan tanpa kamera: Aksi membantunya dilakukan diam-diam, tanpa mengharap pujian atau liputan. Sosoknya begitu sederhana hingga Jenderal Persia tidak mengira itu sang pemimpin besar.

· Takut hanya pada Allah: Akuntabilitas tertingginya adalah kepada Tuhan, bukan survei atau media.

Tiga Kandidat Bersaing Ketat Kursi Inspektur Lebong

“Pencitraan Murahan”: Ketika Rakyat Bukan Lagi Penonton yang Bodoh

Di sisi lain,aksi serupa oleh sebagian pejabat hari ini sering kali terperangkap dalam drama publik yang transparan dan mudah dikenali. Rakyat Indonesia bukan penonton pasif. Mereka memiliki memori dan akses informasi yang luas.

Faktanya, nama pejabat yang bersangkutan tidak bisa lepas dari sejarah panjang kontroversi lingkungan, terutama saat menjabat sebagai Menteri Kehutanan (2009 – 2014). Beberapa kasus pengelolaan hutan menyeret namanya, termasuk pertanyaan serius dari aktivis lingkungan hidup, Harrison Ford, saat wawancara sekitar tahun 2013 lalu terkait deforestasi Taman Nasional Tesso Nilo.

<< 1 2 >>

Laman: 1 2

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement