Namun, di balik semangat gotong royong itu, Viki menyelipkan kritik tajam terhadap pemerintah provinsi. Ia mengingatkan bahwa jalan yang mereka timbun itu adalah jalan poros penghubung antar kabupaten yang statusnya merupakan kewenangan provinsi. Sayangnya, kondisinya sudah “jauh daripada layak”.
“Ini adalah kewenangan jalan provinsi. Saya pikir sah-sah saja kami bergotong royong, tapi harapan saya sebagai kepala desa khususnya kepada Pak Gubernur: tolonglah lihat kondisi jalan kita di Lebong ini. Jangan sampai nanti masyarakat menagih janji beliau di masa kampanye bahwa ‘Lebong ini mulus’. Faktanya sampai saat ini kami, baik sebagai masyarakat maupun unsur pemerintahan di tingkat desa, belum mendengar kapan janji itu benar-benar dibangun,” tegasnya.
Kritik Pola Pikir: Jangan Saling Caci Maki di Medsos
Viki Anuari juga melontarkan sindiran pedas terhadap budaya pejabat yang lebih sibuk berdebat di media sosial ketimbang bertindak nyata. Ia mendorong semua pihak untuk bergerak, bukan sekadar saling menjelekkan.
“Saya boleh saran, lebih banyaklah kita action atau bergerak berbuat untuk kepentingan masyarakat umum. Janganlah kita saling caci maki di media sosial yang enggak jelas. Ayo siapa yang bisa membantu, siapa yang bisa berbuat. Lebong ini menuju perubahan, menuju kemajuan. Jangan sampai kita kalah dengan daerah lain, terutama di bidang infrastruktur. Di jalan aja kita sudah kalah,” ujarnya dengan nada tinggi.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa aksi ini bukan untuk mencari muka atau mengambil simpati dari pemerintah provinsi maupun kabupaten.
“Ini tidak ada lagi pejabat-pejabat baik tingkat desa, kecamatan, dan lain sebagainya. Kami ambil inisiatif tanpa ada instruksi siapapun. Kami coba memakai pola pikir secara dingin, bagaimana caranya supaya jalan ini setidaknya meskipun tidak ada semen atau aspal, tapi bisa mengurangi dampak kecelakaan kendaraan yang sering kita lihat,” tandasnya.
Catatan Redaksi


Komentar