“Belum bisa kita katakan dan menduga-duga permasalahan faktor penyebab kerusakan Jalan Talang Ratu itu karena ada faktor tambang di bawahnya. Perlu kajian teknis dan pendapat para ahli,” tegas Domer.
Domer mengingatkan kasus serupa yang terjadi di jalan bawah Picung, lintas Muara Aman – Arga Makmur. Menurutnya, ruas jalan tersebut terus rusak berulang kali meski sudah diperbaiki, dan kondisi itu sangat mirip dengan apa yang terjadi di Talang Ratu.
“Jalan bawah Picung lintas Muara Aman – Arga Makmur kasusnya sama, diperbaiki rusak, diperbaiki rusak lagi. Apakah di bawah sana ada tambang? Jelas. Bupati sah-sah saja membuat pernyataan setelah pertemuan itu, tapi jangan asal tuduh soal air tanpa bukti,” sindirnya.
Lebih lanjut, Domer meminta agar Bupati Lebong tidak menggunakan momentum bencana untuk melontarkan pernyataan yang bisa berujung pada provokasi publik. Ia khawatir statemen tanpa basis kajian yang kuat justru akan mengeruhkan suasana di tengah masyarakat yang tengah dilanda bencana.
“Serahkan pada ahlinya, baru setelah itu silakan berstatemen. Jangan sampai statemen bupati nanti menjadi bahan provokasi dan mengeruhkan suasana. Ini lagi bencana, kita butuh solusi, bukan provokasi,” ucapnya dengan tegas.
Meski mengkritik, Domer mengapresiasi langkah Pemerintah Kabupaten Lebong yang telah menggelar rapat koordinasi. Ia berharap pertemuan tersebut bisa berdampak nyata pada percepatan penanganan, bukan sekadar forum untuk menyimpulkan penyebab secara sepihak.
“Kami hargai langkah Pemkab Lebong melaksanakan kegiatan ini, dengan harapan dampak bencana alam bisa teratasi,” tutup Domer.
Sekedar mengingat beberapa minggu lalu ruas jalan Talang Ratu yang patah kembali ini merupakan akses vital bagi sejumlah desa di Kabupaten Lebong. Kerusakan parah menyebabkan aktivitas ekonomi warga lumpuh dan distribusi logistik terganggu. Sementara itu, penanganan permanen oleh pemerintah provinsi hingga kini belum juga dimulai, memicu kekecewaan warga yang sudah berulang kali mengalami kejadian serupa.


Komentar