Gaya Pencitraan usang Wabup Lebong berlumpur ria terasa geli dan menggelikan.
Oleh : Mashuri ( AWI)
Pagi ini saya dibuat kaget bukan kepalang. Seorang anak SMA berdiri di depan rumah, memegang kardus bekas mi instan, dengan berkeringat meminta sumbangan. Untuk banjir Lebong, katanya. Saya langsung termangu. Ini Lebong yang sama yang punya wakil bupati. Ini Lebong yang sama yang konon katanya pasca pilkada punya pemimpin baru slogan ” Menyala”. Tapi kenapa anak SMA yang harus turun jalan meminta receh untuk korban banjir?

Salah satu Siswa Lebong ikut mengumpulkan sumbangan agar dapur umum bisa ngebul
Saya langsung menghela napas panjang. Perasaan saya pagi ini campur aduk, persis gado-gado. Ada getir, ada heran, ada jengkel, ada geli sekaligus miris.
Habis kesal malam tadi teleponan dengan sahabat karib saya sejak SMA sampai bangku kuliah, Saprul, SE, yang kini menjabat sebagai Kepala BPBD Lebong. Saya tanya lugas: “Bung, kenapa dapur umum tidak ngebul?” Jawabnya singkat, gamblang, ringkas, dan menusuk kalbu: “Tidak ada anggaran.”
Hmm.
Tidak ada anggaran. Kalimat pendek yang menjelaskan panjangnya penderitaan. Tidak ada uap dari dapur umum berarti tidak ada nasi untuk korban. Tidak ada nasi untuk korban berarti tidak ada nyawa yang terjamin. Lalu di mana para pemimpin kita?
Wakil Bupati dengan Gaya Pencitraan Usang
Hari-hari ini saya melihat Wakil Bupati Lebong, Bambang ASB, sibuk berbecek ria. Foto-fotonya beredar: beliau ikut membersihkan rumah warga, ikut membersihkan sekolah, dengan senyum mengembang, dengan atribut lengkap, seolah itu semua adalah wujud kepedulian.
Maaf, Pak Wabup. Saya bilang terus terang: itu gaya pencitraan yang usang. Bahkan terkesan menggelikan. Bukan karena kerja bersih-bersih itu jelek, tapi karena timing-nya yang salah besar. Di saat dapur umum tak ngebul, di saat anak-anak SMA keliling meminta sumbangan mi instan, Bapak sibuk berbecek ria seolah-olah itu adalah bentuk penanggulangan bencana yang utama.


Komentar