Bengkulu Daerah Infrastruktur Lebong
Beranda » 110 Hektare Sawah di Lebong Terancam Gagal Tanam

110 Hektare Sawah di Lebong Terancam Gagal Tanam

Masyarakat Dengan Latar Belakang Sawah Sudah Kering Kerontang/dpt

Lebong, dipatriot.com — Memasuki masa persiapan musim tanam padi Indeks Pertanaman (IP) 200 tahun 2026, ancaman gagal tanam justru membayangi ratusan petani di Kecamatan Bingin Kuning, Kabupaten Lebong. Kekeringan melanda sedikitnya 110 hektare lahan persawahan yang tersebar di Desa Bungin, Pungguk Pedaro, Karang Dapo Bawah, dan Karang Dapo Atas, membuat petani tak bisa memulai pengolahan lahan.

Banjir Bandang Tinggalkan Masalah Baru

Kekeringan saat ini merupakan dampak lanjutan dari bencana banjir bandang yang melanda sejumlah kecamatan di Lebong pada Maret lalu. Bencana tersebut tidak hanya merendam pemukiman, tetapi juga mengakibatkan pendangkalan parah pada pembagi air irigasi Trokon yang menjadi sumber utama pengairan sawah warga.

Material lumpur dan sedimentasi menutup saluran pembagi air di wilayah Karang Dapo Atas, sehingga aliran air ke area persawahan di bawahnya terhambat. Akibatnya, saat musim tanam tiba, puluhan hektare sawah justru mengering dan retak.

Petani Berharap pada Normalisasi

DNA Tak Bisa Dusta, Kakak Kandung Korban Jadi Tersangka

Para petani selama ini sangat bergantung pada irigasi Trokon untuk mengairi sawah mereka. Kepala Dusun III Desa Bungin, Almuntaha, mengungkapkan bahwa memasuki musim kemarau, ketersediaan air semakin terbatas, sehingga normalisasi saluran irigasi sangat mendesak untuk dilakukan.

Hal senada disampaikan Ramli, tokoh masyarakat Karang Dapo Bawah. “Saat ini kami petani terancam gagal tanam akibat kurangnya pasokan air. Kami berharap pemerintah terkait bisa sesegera mungkin menurunkan alat untuk normalisasi pendangkalan di wilayah Karang Dapo Atas, satu-satunya sumber air yang mengaliri sawah masyarakat,” ujarnya dengan nada mendesak.

Carles, warga Karang Dapo Atas, juga menjelaskan bahwa akhir Agustus seharusnya menjadi awal musim tanam padi IP 200. “Namun kondisi musim kemarau membuat kami petani sangat membutuhkan pasokan air Trokon agar bisa normal seperti biasanya,” imbuhnya.

<< 1 2 >>

Laman: 1 2

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement