Bengkulu, dipatriot.com — Suasana unjuk rasa yang digelar Forum Aktivis Bengkulu Bersatu (FABB) di depan Kantor Kejaksaan Tinggi (Kejati) Bengkulu mendadak memanas dan nyaris berujung adu jotos, Senin (24/8/26). Ketegangan pecah di tengah massa aksi setelah sejumlah orang dari kelompok berbeda mendadak muncul dan berteriak mendesak agar demonstrasi segera dibubarkan.
Insiden tersebut terjadi sekitar pukul 10.30 WIB, saat massa aksi yang tergabung dalam FABB tengah menyampaikan orasi perdana di depan gerbang utama Kejati Bengkulu. Tiba-tiba, sekitar belasan orang yang mengenakan ikat kepala berwarna hitam muncul dari arah timur dan langsung berdiri tepat di barisan depan demonstran. Mereka berteriak lantang meminta agar aksi dihentikan, sembari melontarkan kata-kata provokatif yang membuat suasana langsung berubah tegang.
Berdasarkan pantauan di lapangan, aksi saling dorong antar kedua kelompok tak terhindarkan. Massa aksi yang semula tertib dan teratur mulai terpecah konsentrasinya, sebagian mencoba menghadapi para provokator sementara yang lain berusaha menjaga agar orasi tetap berjalan. Suasana kian memuncak ketika beberapa benda kecil sempat terlihat melayang di antara kedua kubu. Teriakan “bubarkan” dan “lawan” bergantian menggema di sepanjang jalan utama yang menghadap Kantor Kejati.
Beruntung, aparat kepolisian yang telah disiagakan sejak pagi bergerak cepat menerobos kerumunan untuk memisahkan kedua kubu. Dengan sigap, puluhan personel berseragam membentuk pagar betis di antara dua kelompok yang bertikai, mencegah bentrokan meluas ke jalan raya. Tak butuh waktu lama, situasi perlahan terkendali. Kelompok ikat kepala hitam akhirnya mundur dan menghilang di antara deretan kendaraan yang terparkir, sementara massa aksi FABB kembali diarahkan untuk melanjutkan demonstrasi dengan tertib.
Pihak Kepolisian Resor Kota Bengkulu, mengimbau seluruh pihak untuk tidak terprovokasi. “Kami menghimbau agar aksi tetap berjalan damai. Provokasi dari pihak mana pun tidak akan kami toleransi. Personel kami sudah diperintahkan untuk bersikap tegas namun humanis,” di sela-sela pengamanan.
Insiden ini nyaris mencoreng rencana aksi besar yang telah dipersiapkan FABB sejak jauh hari. Sebelum ketegangan terjadi, FABB telah merancang skema demonstrasi serentak di tiga titik strategis, yakni Kejati Bengkulu, DPRD Provinsi Bengkulu, dan Kantor Gubernur Bengkulu. Rencana itu disusun untuk memaksimalkan penyampaian aspirasi sekaligus menggugah perhatian pemerintah daerah terhadap berbagai persoalan yang dianggap mendesak.
Ketua FABB, Herman Lutpi, mengonfirmasi bahwa seluruh persiapan aksi telah dimatangkan sejak sepekan sebelumnya, termasuk koordinasi internal, pembagian tim, hingga penyampaian aspirasi melalui pembentangan spanduk berukuran besar di setiap lokasi. Menurutnya, skema tiga titik ini dipilih untuk menjangkau seluruh pemangku kepentingan sekaligus menunjukkan bahwa gerakan ini terstruktur dan terencana dengan matang.
“Teknisnya sudah kita matangkan. Orasi akan kita laksanakan di tiga titik sekaligus. Semua sesuai harapan dan tuntutan yang sudah kita tuliskan di spanduk besar,” ujar Herman saat ditemui di posko aksi, Minggu (23/8) malam, sehari sebelum demonstran bergerak. Ia menambahkan bahwa pembagian tim telah dilakukan berdasarkan sektor, dengan masing-masing koordinator lapangan bertanggung jawab atas kelancaran jalannya aksi di titik yang telah ditentukan.
Koordinator Aksi FABB, Dedi Mulyadi, menegaskan bahwa unjuk rasa ini murni gerakan rakyat yang dijamin konstitusi dan dikawal langsung oleh tim pengaman internal serta tim dokumentasi. Dalam aksinya, FABB menyuarakan sejumlah tuntutan krusial yang telah lama menjadi sorotan publik, seperti transparansi pengelolaan anggaran daerah, peningkatan mutu pelayanan publik, serta penegakan hukum yang adil dan bebas dari korupsi. Tiga tuntutan itu, menurut Dedi, merupakan akar masalah yang menghambat kemajuan Bengkulu selama bertahun-tahun dan mengenai ada sekelompok orang memakai pita hitam, Dedi, mengatakan terindentifikasi kelompok Doni Osmon, untuk membubarkan aksi dan pihak kepolisian harus periksa status aksi mereka yang memprovokasi masa.
“Kami ingin aksi ini tertib, damai, dan sampai pesannya. Spanduk besar berisi tuntutan rakyat akan kita bentangkan. Ini bukan anarkis, ini konstitusional. Kami sudah menyusun pedoman bagi seluruh peserta agar tidak terpancing dengan hal-hal di luar jalur, masalah kelompok Doni Osmon kami akan laporkan ke APH dan memintak pihak kepolisian untuk bertindak tegas ” tegas Dedi, kepada dipatriot.com . Ia juga menginstruksikan tim dokumentasi untuk merekam seluruh jalannya aksi sebagai bentuk pertanggungjawaban dan bukti bahwa gerakan ini berlangsung sesuai koridor hukum.
Herman Lutpi menambahkan bahwa gerakan moral ini merupakan bentuk kepedulian mendalam anak daerah terhadap perbaikan tata kelola pemerintahan di Bengkulu. Menurutnya, unjuk rasa bukanlah tujuan, melainkan alat untuk menyadarkan para pemimpin daerah bahwa rakyat memiliki hak untuk mengawal jalannya pembangunan. Ia menyebutkan bahwa berbagai laporan mengenai dugaan penyimpangan anggaran dan rendahnya kualitas pelayanan publik telah dikumpulkan dan akan diserahkan secara resmi kepada instansi terkait setelah aksi berakhir.
“Kami anak daerah, kami cinta Bengkulu. Demo ini bentuk cinta terhadap daerah. Kalau ada yang salah, kita luruskan bersama-sama. Kami ingin Bengkulu bebas dari korupsi agar menjadi lebih baik untuk anak cucu di masa depan. Ini bukan soal membenci pemerintah, tapi soal bagaimana kita bisa memastikan bahwa pembangunan berjalan pada relnya,” tegas Herman dengan suara bergetar penuh emosi. Pernyataannya itu langsung disambut sorak sorai dari puluhan demonstran yang masih bertahan di lokasi.
Hingga berita ini diturunkan, aksi FABB di tiga titik strategis masih berlangsung dengan pengawalan ketat dari aparat kepolisian. Meski insiden sempat memanas di depan Kejati, massa aksi berhasil dikendalikan dan kembali melanjutkan orasi dengan tertib. Sementara itu, belum ada pernyataan resmi dari pihak Kejati Bengkulu, DPRD Provinsi, ataupun Kantor Gubernur terkait tuntutan yang disampaikan. Namun, sejumlah sumber menyebutkan bahwa perwakilan dari ketiga institusi tersebut telah menyatakan kesiapannya untuk menerima perwakilan massa aksi dalam waktu dekat.
Pengamat politik Bengkulu yang tidak mau disebut namanya, menilai bahwa aksi FABB kali ini memiliki bobot tuntutan yang cukup mendasar dan relevan dengan kondisi riil di lapangan. Menurutnya, transparansi anggaran dan pemberantasan korupsi memang menjadi isu sentral yang belum tuntas di Bengkulu. “Tuntutan mereka tidak berlebihan. Ini adalah bagian dari kontrol sosial yang sehat. Yang perlu diwaspadai adalah potensi infiltrasi kelompok lain yang ingin memanfaatkan momen untuk menciptakan kekacauan, seperti yang terjadi pagi ini,” ujarnya ketika dihubungi terpisah.
Sementara itu, hingga pukul 13.00 WIB, aksi di tiga lokasi masih berlangsung dalam situasi terkendali. Massa dijadwalkan akan membentangkan spanduk besar berisi tuntutan secara serentak pada puncak acara sekitar pukul 14.00 WIB, sebelum akhirnya membubarkan diri dengan damai. Kepolisian memastikan akan terus melakukan pengawalan hingga seluruh peserta aksi kembali ke rumah masing-masing dengan selamat. (4W1D)


Komentar