Nasional
Beranda » Gara-Gara “Tangan Tak Bertanggung Jawab”, PJU Lebong Mati Lagi, Masyarakat: Jangan Cuma Janji!

Gara-Gara “Tangan Tak Bertanggung Jawab”, PJU Lebong Mati Lagi, Masyarakat: Jangan Cuma Janji!

DIPATRIOT.COM – LEBONG – Kebahagiaan warga Kabupaten Lebong yang baru sebentar merasakan terangnya Lampu Penerangan Jalan Umum (PJU) pupus sudah. Penerangan yang baru menyala di sekitar perkantoran dan kawasan Muara Aman tiba-tiba padam lagi, mengembalikan kegelapan dan kekecewaan.

PJU yang baru dipasang oleh pihak ketiga, rekanan Pemkab Lebong, itu mati tak berapa lama setelah hidup. Saat dikonfirmasi, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang-Perhubungan (PUPR-HUB) Lebong, Evi, selaku penanggung jawab pemeliharaan, menyebutkan adanya gangguan teknis.

“Ada gangguan teknis menyangkut turunnya saklar yang mungkin dilakukan oleh orang tidak bertanggung jawab, namun sudah diatasi,” kata Evi, melalui pesan singkat, “Waalaikumsalam, sudah ditindaklanjuti pak, malem tadi.”

Namun, fakta di lapangan berkata lain. Pantauan Dipatriot.com pada pukul 06.00 pagi  20 November 2025, di kawasan Muara Aman menunjukkan lampu-lampu jalan tersebut masih dalam kondisi padam dan belum menyala. Realitas ini bertolak belakang dengan klaim “sudah diatasi” dari pihak dinas.

David Kasidi,tokoh masyarakat dan aktivis senior Lebong

Matinya kembali PJU ini semakin menyulut kekecewaan. Tokoh masyarakat dan aktivis Lebong, David Kasidi, menanggapi tegas persoalan yang ia sebut sebagai “siklus bohong” ini. David mengingatkan bahwa PJU di Lebong sebelumnya mati total selama hampir lima tahun sebelum akhirnya bisa menyala kembali belakangan ini.

DNA Tak Bisa Dusta, Kakak Kandung Korban Jadi Tersangka

Ia menuntut keseriusan Dinas PUPR-HUB dalam hal pemeliharaan. “Jangan sampai sudah dipasang baru, dibiarkan tidak terkontrol. Itu sama saja bohong!” tegas David.

David juga menyoroti persoalan mendasar lainnya: pemerataan. Ia menegaskan bahwa dana untuk PJU ini bukan berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, melainkan murni uang rakyat Lebong sendiri.

“Semua pihak harus tahu, biaya LPJU ini bukan dari DAK (Dana Alokasi Khusus) atau DAU (Dana Alokasi Umum). Ini murni hasil pungutan dari masyarakat Lebong dengan dipotong 10% dari rekening listrik, sesuai yang tertuang dalam Perda Lebong,” jelas pria berkacamata itu.

Pernyataan David menggarisbawahi betapa uang masyarakat yang telah dikumpulkan harus dipertanggungjawabkan dengan baik. Kehadiran PJU bukan sekadar pencitraan, tetapi sebuah kebutuhan vital.

Penerangan jalan yang layak telah lama menjadi dambaan seluruh masyarakat Lebong. Keberadaan PJU yang menyala merata hingga ke pelosok bukan hanya tentang penerangan, tetapi juga tentang keselamatan. PJU diharapkan dapat membantu aktivitas warga di malam hari, mencegah tindak kejahatan, dan mengurangi risiko kecelakaan di jalan.

Tiga Kandidat Bersaing Ketat Kursi Inspektur Lebong

Insiden matinya PJU yang baru saja dipasang ini menjadi ujian berat bagi komitmen Pemkab Lebong. Masyarakat menunggu tindak lanjut yang nyata, bukan sekadar pernyataan “sudah ditindaklanjuti” yang ternyata tak sejalan dengan kondisi di jalanan. Rakyat Lebong sudah lelah dengan kegelapan dan janji-janji yang tak terpenuhi. Mereka menuntut terang yang konsisten dan merata, yang dibiayai oleh uang mereka sendiri. (Red/dpt).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement